BURNOUT PADA PUSTAKAWAN

Nama : IRMINA WEA DJAWO

NPM : 18540004

MK : FILSAFAT

2.1 Pengertian Burnout

            Burnout adalah istilah yang menggambarkan kondisi emosional seseorang yang merasa lelah dan jenuh secara mental, emosional dan fisik sebagai akibat tuntutan pekerjaan yang meningkat. Sumber utama timbulnya burnout adalah karena adanya stress yang berkembang secara terus menerus akibat keterlibatan pemberi dan penerima layanan dalam jangka panjang. Burnout dapat dterjadi pada pustakawan karena terlibat dalam pelayanan jangka panjang dengan pengunjung perpustakaan. Gejala burnout dapat dirasakan pada gejala fisik, emosional, dan perilaku. Tingkat burnout dapat diukur dengan menggunakan metode Maslach Burnout Inventory (MBI). Adapun faktor-faktor burnout bisa berasal dari status perkawinan, jenis kelamin, usia, dan jam kerja.

Burnout merupakan “epidemi” yang melanda  dunia kerja dan burnout bisa menyerang siapa saja tanpa memandang pekerjaan dan  usia. Burnout  adalah istilah  yang  menggambarkan kondisi emosional seseorang yang merasa lelah dan jenuh secara mental, emosional dan fisik sebagai akibat tuntutan pekerjaan yang meningkat.

            Pines dan Aronson (1989) seperti dikutip oleh Sutjipto  dalam artikelnya yang dimuat secara online berjudul  ‘Apakah anda mengalami burnout?”(2001),   mendefinisikan burnout sebagai kelelahan secara fisik, mental, dan emosional. Burnout dialami oleh seseorang yang bekerja menghadapi tuntutan dari klien/pelanggan, tingkat keberhasilan dari pekerjaan rendah, dan kurangnya penghargaan yang memadai terhadap kinerjanya. Situasi menghadapi klien ini menggambarkan keadaan yang menuntut secara emosional (emotionally demanding). Pada akhirnya dalam jangka panjang seseorang akan mengalami kelelahan, karena ia berusaha memberikan sesuatu secara maksimal, namun memperoleh apresiasi yang minimal. 

            Walaupun intensitas, durasi, frekuensi, dan konsekuensinya beragam, burnout  umumnya mempunyai tiga komponen, yaitu kelelahan fisik, kelelahan emosional, dan kelelahan mental. Gambaran dari ketiga dimensi tersebut adalah sebagai berikut :

  • Kelelahan fisik  yang menyebabkan sakit fisik seperti sakit kepala, demam, sakit punggung (rasa ngilu),  tegang pada otot leher dan bahu, sering terkena flu, susah tidur, mual-mual, gelisah, dan perubahan kebiasaan makan.
  • Kelelahan emosi dicirikan antara lain seperti rasa bosan, mudah tersinggung, sinis, mengeluh  tiada henti,  marah tanpa sebab, gelisah, tidak peduli dengan orang lain, putus asa, sedih, tertekan dan rasa tidak berdaya.
  • Kelelahan mental dicirikan antara lain dengan rasa benci, rasa gagal, tidak peka, sinis, kurang bersimpati dengan orang lain, mempunyai sikap negatif terhadap orang lain, cenderung masa bodoh dengan dirinya, pekerjaannya dan kehidupannya, acuh tak acuh,  selalu menyalahkan, rasa tidak puas terhadap pekerjaan, rendah diri dan merasa tidak kompeten, dan tidak puas dengan jalan hidup.

Selanjutnya Sutjipto juga mengutip pendapat Cherniss (1980) yang  menyatakan bahwa burnout merupakan perubahan sikap dan perilaku dalam bentuk reaksi menarik diri secara psikologis dari pekerjaan, misalnya menjaga jarak dan bersikap sinis terhadap klien, membolos, sering terlambat, dan keinginan pindah kerja. Pandangan Cherniss ini nampak sejalan dengan pandangan Freudenberger (1974)   bahwa seseorang dengan sikap antusias tinggi dan penuh semangat  pada awal bekerja biasanya mempunyai idealisme yang tinggi pula. Namun, stres demi stres yang dialami terus menerus  secara  kronis menyebabkan orang tersebut  mengalami perubahan motivasi, dan pada akhirnya  mengalami burnout.

2.2 Karakteristik Burnout

            Sumber dari dalam diri individu yang memberi sumbangan timbulnya burnout dapat digolongkan atas dua faktor, yaitu faktor demografik dan faktor kepribadian (Caputo, 1991; Maslach, 1982; Farber, 1991).

  1. Faktor Demografik : 

Farber (1991)  dalam penelitiannya tentang kondisi stres dan burnout di kalangan guru-guru di Amerika  menemukan bahwa pria lebih rentan terhadap stres dan burnout jika dibandingkan dengan wanita.  Pria tumbuh dan dibesarkan dengan nilai kemandirian khas pria,  dan mereka diharapkan dapat bersikap tegas, lugas, tegar, dan tidak emosional. Sebaliknya, wanita diharapkan untuk mempunyai sikap membimbing, empati, kasih sayang, membantu, dan lembut hati. Perbedaan cara dalam membesarkan pria dan wanita memberi dampak berbeda pula pada pria dan wanita dalam menghadapi dan mengatasi burnout. Seorang pria yang tidak dibiasakan untuk terlibat mendalam secara emosional dengan orang lain akan rentan terhadap berkembangnya depersonalisasi. Wanita yang lebih banyak terlibat secara emosional dengan orang lain akan cenderung rentan terhadap kelelahan emosional.

Status perkawinan juga berpengaruh terhadap timbulnya burnout. Profesional yang berstatus lajang lebih banyak mengalami burnout daripada yang telah menikah (Farber, 1991; Maslach, 1982). Jika dibandingkan antara seseorang yang memiliki anak dan yang tidak memiliki anak, maka seseorang yang memiliki anak cenderung mengalami tingkat burnout yang lebih rendah. Alasannya adalah:

(1) seseorang yang telah berkeluarga pada umumnya cenderung berusia lebih tua, stabil, dan matang secara psikologis,

(2) keterlibatan dengan keluarga dan anak dapat mempersiapkan mental seseorang dalam menghadapi masalah pribadi dan konflik emosional, 

(3) kasih sayang dan dukungan sosial dari keluarga dapat membantu seseorang dalam mengatasi tuntutan emosional dalam pekerjaan, dan

 (4) seseorang yang telah berkeluarga memiliki pandangan yang lebih realistis (Maslach, 1982).

Temuan lain adalah bahwa profesional yang berlatar belakang pendidikan tinggi cenderung rentan terhadap burnout jika dibandingkan dengan mereka yang tidak berpendidikan tinggi (Maslach, 1982). Profesional yang berpendidikan tinggi memiliki harapan atau aspirasi yang idealis sehingga ketika dihadapkan pada realitas bahwa terdapat kesenjangan antara aspirasi dan kenyataan, maka munculah kegelisahan dan kekecewaan yang dapat menimbulkan burnout. Sebaliknya, bagi profesional yang  berpendidikan sedang saja, cenderung kurang memiliki harapan yang tinggi sehingga tidak menjumpai banyak kesenjangan antara harapan dan kenyataan.

Caputo (1991) mengemukakan terdapat hubungan antara status profesional dengan burnout. Profesional yang bekerja secara penuh waktu lebih berisiko terhadap burnout jika dibandingkan dengan profesional yang bekerja paruh waktu. Smith dalam Caputo (1991) dalam penelitiannya pada staf perpustakaan menemukan bahwa individu yang mengalami burnout lebih banyak ditemukan pada mereka yang bekerja  purnawaktu (fulltimer).

  1. Faktor Kepribadian:

Salah satu karakteristik kepribadian yang rentan terhadap burnout adalah individu yang idealis dan antusias. Individu-individu ini, karena memiliki komitmen yang berlebihan, dan melibatkan diri secara mendalam di pekerjaan akan merasa sangat kecewa ketika imbalan dari usahanya tidaklah seimbang. Mereka akan merasa gagal dan berdampak pada menurunnya penilaian terhadap kompetensi diri. Maslach (1982) mengatakan bahwa individu yang memiliki konsep rendah diri rentan terhadap burnout.  Mereka pada umumnya dilingkupi oleh rasa takut sehingga menimbulkan sikap pasrah.

Karakteristik kepribadian berikutnya adalah perfeksionis, yaitu individu yang selalu berusaha melakukan pekerjaan sesempurna mungkin sehingga akan sangat mudah merasa frustrasi bila kebutuhan untuk tampil sempurna tidak tercapai. Karenanya, menurut Caputo (1991) individu yang perfeksionis rentan terhadap burnout.

Kemampuan yang rendah dalam mengendalikan emosi juga merupakan salah satu karakteristik kepribadian yang dapat menimbulkan burnout. Maslach (1982) menyatakan bahwa seseorang ketika melayani klien pada umumnya mengalami emosi negatif, misalnya marah, jengkel, takut, cemas, khawatir dan sebagainya. Bila emosi-emosi tersebut tidak dapat dikuasai, mereka akan bersikap impulsif, menggunakan mekanisme pertahanan diri (self-defence mechanism)  secara berlebihan atau menjadi terlarut dalam permasalahan klien. Kondisi tersebut akan menimbulkan kelelahan emosional yang memicu burnout.

2.3 Penyebab dari Burnout

            Dari beberapa pengertian yang dikemukakan di atas, nampak bahwa penekanan burnout terletak pada karakteristik individu dan wujud dari sindrom itu tampak pada interaksinya terhadap lingkungan kerja.  Pandangan tersebut agak berbeda dengan yang dikemukakan oleh Maslach (1982). Maslach berpendapat bahwa sumber utama timbulnya burnout adalah karena adanya stres yang berkembang secara akumulatif akibat keterlibatan pemberi dan penerima pelayanan dalam jangka panjang. Namun, Maslach secara tersirat juga mengakui bahwa  ada faktor- faktor pendukung terciptanya kondisi burnout  di lingkungan kerja tempat terjadinya interaksi antara pemberi dan penerima pelayanan. Selain itu, analisis juga diperlukan untuk mengkaji faktor-faktor  individu yang ada pada pemberi pelayanan yang turut memberi sumbangan terhadap timbulnya burnout.  Dengan demikian timbulnya burnout disebabkan oleh adanya: 

1.         karakteristik individu,  

2.         lingkungan kerja, dan 

3.         keterlibatan emosional dengan penerima pelayanan.

2.4 Sumber-sumber Burnout

            Baird dan Baird dalam Martin, (2009) mengatakan pekerjaan rutin pada sebuah perpustakaan sangat menimbulkan kelelahan, hari kerja normal pustakawan dapat digambarkan sebagai putaran waktu yang terus-menerus dipenuhi oleh interupsi, interupsi ini tentu saja datang dari pengguna perpustakaan yang berhadapan langsung dengan pustakawan pada bagian layanan. Ada beberapa penyebab lain pada pustakawan yang menimbulkan burnout diantaranya adalah anggaran yang kurang, beban kerja yang berlebihan, perubahan tekhnologi dan kurangnya pendapatan serta tidak adanya jenjang karir pada staf perpustakan

2.5 Gejala Terkena Burnout

            Cherniss (1980) menyatakan bahwa gejala-gejala seseorang mengalami burnout adalah sebagai berikut :

  1. Terdapat perasaan gagal di dalam diri,
  2. Cepat marah dan sering kesal,
  3. Rasa bersalah dan menyalahkan,
  4. Keengganan dan ketidakberdayaan,
  5. Bersikap negatif dan menarik diri
  6. Perasaan capek dan lelah setiap hari,
  7. Hilang perasaan positif terhadap klien,
  8. Menunda kontak dengan klien, membatasi telepon dari klien
  9. Bersikap sinis terhadap klien dan  acap kali  menyalahkan klien,
  10. Sulit tidur  sampai harus  menggunakan obat penenang
  11. Menghindari diskusi mengenai pekerjaan dengan teman kerja, 
  12. Sering demam dan flu,  sakit kepala dan gangguan pencernaan,
  13. kaku dalam berpikir dan resisten terhadap perubahan,
  14. Rasa curiga yang berlebihan;  paranoid,  
  15. Konflik perkawinan dan keluarga yang berkepanjangan

Burnout tidak selalu terjadi pada setiap orang, karena setiap individu mempunyai ketahanan mental dan kondisi psikologis yang berbeda-beda. 

2.6 Teknologi Informasi  sebagai pemicu burnout  pustakawan

            Pemicu stress (stressor)  yang “menghantui’  para pustakawan dalam satu dekade terakhir ini adalah penetrasi teknologi informasi ke berbagai kegiatan  in-griya perpustakaan yang tidak diimbangi dengan program pelatihan dan peningkatan kemampuan mengelola teknologi informasi.    Implementasi teknologi informasi  untuk mendukung kegiatan-kegiatan perpustakaan  secara teoritis seharusnya akan mengurangi  beban pekerjaan rutin pustakawan. Namun penerapan teknologi informasi  tidak bisa berdiri sendiri dalam perencanaan kegiatan suatu perpustakaan. Banyak sekali aspek-aspek pendukung yang perlu dilakukan agar penerapan teknologi informasi tidak akan justru malah  mengakibatkan  bertambahnya  beban kerja dan menimbulkan technostress  terhadap para pustakawan yang pada akhirnya mengarah ke kondisi burnout.

            Technostress  adalah istilah yang  pertama kali digunakan pada  awal tahun 1980an di kalangan pustakawan.  Richard Hudiburg (1996) mengutip definisi technostress yang diberikan oleh Craig Brod dalam bukunya berjudul Technostress: the Human Cost of the Computer Revolution (1984) sebagai berikut:

            Technostress is a modern disease of adaptation caused by an inability to cope with the new computer technologies in a healthy manner. Technostress merupakan adaptasi  penyakit modern  yang disebabkan oleh ketidakmampuan menghadapi teknologi-teknologi  baru komputer dengan cara sehat.

            Faktor-faktor yang dianggap sebagai penyebab burnout di kalangan pustakawan perguruan tinggi menunjukkan kesamaan dengan faktor-faktor penyebab burnout di kalangan profesi pemberi jasa lainnya seperti perawat dan pekerja sosial (Sheesley, 2001). Faktor-faktor tersebut antara lain adalah:

  • pemberian sesi instruksi perpustakaan yang repetitif dalam frekuensi yang sangat sering, terutama di awal masa perkuliahan dimana semua mahasiswa baru wajib mengikuti sesi ini sebagai bagian dari rangkaian pekan orientasi mahasiswa. Hal ini diperburuk dengan fasilitas teknologi informasi yang tidak memadai, akses ke jaringan komputer dan ke Internet yang lambat, sehingga sesi instruksi perpustakaan tidak lancar.
  • sikap para mahasiswa baru peserta sesi instruksi perpustakaan yang tidak menunjukkan antusias dan perhatian terhadap sesi yang diberikan pustakawan, walaupun hal ini bisa saja disebabkan karena padatnya waktu orientasi mahasiswa yang sangat melelahkan.
  • Tidak ada atau kurangnya umpan balik positif yang diterima oleh pustakawan, dari pengguna, manajemen, dan mungkin juga dari sesama pustakawan.

Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *