Kinerja Pustakawan Bagi Perguruan Tinggi

Perpustakaan merupakan salah satu tempat yang telah banyak dikenal oleh masyarakat umum. Perpustakaan dikenal sebagai tempat yang menyediakan berbagai jenis bahan pustaka didalamnya yang dapat digunakan oleh penggunanya sesuai dengan kebutuhannya. perpustakan maupun taman baca masyarakat adalah suatu organisasi dibidang jasa non profit yang merupakan salah satu dari sekian banyak penyedia jasa informasi. menurut Sulistyo Basuki (199 : 3)

Perkembangan teknologi dan informasi saat ini sangat mempengaruhi kebutuhan informasi di lingkungan masyarakat umum untuk pencarian informasi yang dibutuhkan setiap penggunanya. Dalam hal ini peran pustakawan tidak hanya mengolah koleksi, tetapi juga melakukan layanan perpustakaan yang ditunjukkan kepada pengguna atau user di perpustakaan tersebut.

Profesi pustakawan merupakan sebuah pekerjaan yang memerlukan pengetahuan dan keterampilan untuk mengelolah bahan pustaka, melaksanakan pengadaan, dan memberdayakan bahan informasi.

Menurut Suwarno (2013 : 91) pustakawan adalah sebuah profesi. Pustakwan juga merupakan individu yang hidup dan melakukan kegiata, artinya bahwa ketika sebutan sebagai “pustakawan” disandang oleh seseorang maka seketika profesi itu pun melekat pada dirinya. Dalam melaksanakan profesinya, seorang pustakawan dituntut utuk memiliki etika agar tercipta interaksi yang harmonis dan suasana kerja yang kondusif mengingat etika tersebut erat kaitannya dengan eksistensi manusia sebagai individu yang hidup ditengah-tengah masyarakat. 

Menyangkut tentang etika sebagai profesi pustakawan telah diatur didalam kote etik pustakawan. dalam kode etik pustakawan telah diatur bagaimana sikap dan perilaku profesional sebagai pustakawan dalam memberikan pelayananan kepada pemustaka yaitu menyatakan perbuatan apa yang harus dilakukan dan apa saja yang harus dihindari.

Menurut pendapat Purwono (2013 : 83) bahwa telah dijelaskan tersirat dalam beberapa pasal Undang-Undang No. 43 Tahun 2007 terutama dalam pasal 32 yang menyebutkan bahwa :

“Tenaga perpustakaan berkewajiban : a) memberikan layanan prima terhadap pemustaka; b) menciptakan suasana perpustakaan yang kondusif; c) memberikan keteladanan dan menjaga nama baik lembaga dan kedudukannya sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya”.

Sedangan menurut Hermawan (2006 : 113) dijabarkan tentang kewajiban seorang pustakawan kepada masyarakat yaitu sebagai berikut :

  1. Pustakawan wajib memberikan layanan prima, artinya pelayanan kepada masyarakat harus dilakukan dengan cepat, tepat, mudah, murah, tertib, dan tuntas sesuai dengan prosedur yang berlaku.
  2. Pelayanan harus dilakukan dengan sopan yang berarti dalam memberikan pelayanan pustakawan harus menggunakan prinsip 4S yaitu senyum, salam, sopan, dan santun. Sehingga pelayanan berlangsung dalam suasana ramah dan menyenangkan.

Selain itu menurut Hermawan (2006 : 124) bahwa pustakawan yang dapat memberikan pelayanan dengan perilaku yang baik sesuai etika pergaulan di masyarakat memiliki beberapa manfaat di antaranya : Pustakawan dengan pemustaka dapat saling menghargai, diwujudkan dengan sikap sopan, santun, ramah, dan bersahabat, pustakawan akan selalu mengembangkan pikiran positif, dewasa, dan tidak cuek kepada orang lain. Melayani dengan sabar, tidak mudah tersinggung dapat timbul ketenangan hidup, dan juga melahirkan pikiran jernih dan objektif. Kemudian komunikatif dapat menghilangkan kesombongan, kekecewaan dan kepenatan yang akan menghambat dalam pergaulan sehari-hari. 

Untuk meningkatkan kualitas layanan perpustakaan pustakawan dituntut bersikap profesional dengan memiliki kompetensi yang meliputi pengetahuan, ketrampilan, dan sikap. Kompetensi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1993) adalah bermakna kewenangan (kekuasaan) untuk menentukan (memutuskan) sesuatu. Supriyanto (2006) menyatakan bahwa rumusan kompetensi pustakawan setidaknya meliputi dua, yaitu:

  1. Kompetensi Profesional terkait dengan pengetahuan bidang sumber-sumber informasi: teknologi, manajemen, pelatihan dan kemampuan menggunakan pengetahuan sebagi dasar layanan perpustakaan dan informasi.

2. Kompetensi Individual merupakan satu kesatuan ketrampilan, perilaku dan nilai   7 yang dimiliki pustakawan agar dapat bekerja efektif, jadi komunikator yang baik, meningkat pengetahuannya, memperlihatkan nilai lebih, dapat bertahan terhadap perubahan dan perkembangan dalam dunia kerjanya.

Seorang pustakawan harus memiliki kemampuan, pengetahuan dan ketrampilan, sikap, nilai, perilaku serta karakteristik pustakawan untuk melaksanakan pekerjaan memberikan layanan kepada pengguna. Dengan adanya kompetensi yang seharusnya dimilki pustakawan, akan menjamin terwujudnya layanan yang bermutu. Oleh karena itu, untuk menjadi pustakawan harus ada persyaratan minimal yang dimiliki dan sesudah menjadi pustakawan harus berupaya meningkatkan kompetensi tersebut. Kompetensi pustakawan harus selalu ditingkatkan secara berkelanjutan. Dalam hal ini perlu diperhatikan adanya komponen peningkatan kompetensi antara lain:

  1. Menguasai pengetahuan, ketrampilan dan kemempuan serta integritas pustakawan.
  2. Mempunyai kewenangan dan tanggungjawab yang diberikan kepada pustakawan.
  3. Mengembangkan dan mengelola jasa informasi yang nyaman, mudah diakses dan murah sesuai dengan arahan strategi organisasi.
  4. Menggunakan teknologi informasi yang sesuai untuk mengadakan, mengorganisasikan dan mendiseminasikan informasi.
  5. Meningkatkan jasa informasi secara berkelanjutan untuk menjawab tantangan dan perkembangan

Peran pustakawan selama ini membantu pengguna untuk mendapatkan informasi dengan bimbingan pemakai agar pencarian informasi dapat efisien, efektif, tepat sasaran, serta tepat waktu. Perkembangan teknologi informasi menuntut peran pustakawan lebih ditingkatkan sehingga dapat berfungsi sebagai mitra bagi para pencari informasi. Pustakawan dapat mengarahkan pencari informasi untuk mendapatkan informasi yang sesuai dan dapat dipertanggungjawabkan.

Berikut ini adalah Peran pustakawan antara lain :

  1. Edukator, Sebagai edukator (pendidik), pustakawan dalam melaksanakan tugasnya harus mengembangkan kepribadian, mengajar adalah mengembangkan kemampuan berfikir, dan melatih adalah membina dan mengembangkan ketrampilan, olehj karena itu pustakawan harus memiliki kecakapan mengajar, melatih dan mengembangkan.
  2. Manajer, pada hakekatnya pustakawan adalah “manajer informasi” yang mengelola informasi pada satu sisi dengan penggunaan informasi pada sisi lain.
  3. Administrator, pustakawan harus mampu menyusun, melaksanakan dan mengevaluasi program perpustakaan serta dapat melakukan analisis atas hasil yang telah dicapai, kemudian melakukan upaya-upaya perbaikan untuk mencapai hasil yang lebih baik.
  4. Supervisor, sebagai supervisor pustakawan harus; (a) Dapat melaksanakan pembinaan profesional, untuk mengembangkan jiwa kesatuan dan persatuan antar sesama pustakawan, sehingga dapat menumbuhkan dan peningkatan semangat kerja, dan kebersamaan; (b) Dapat meningkatkan prestasi, pengetahuan dan ketrampilan, baik rekan-rekan sejawat mapun masyarakat pengguna yang dilayani; (c) Mempunyai wawasan yang luas, pandangan jauh ke depan, memahami beban kerja, hambatanhambatan, serta bersikap sabar, tetapi tegas, adil, obyektif dalam melaksanakan tugasnya; dan (d) Mampu berkoordinasi, baik dengan sesama pustakawan maupun dengan para pembinanya dalam menyelesaikan berbagai persoalan dan kendala, sehingga mampu meningkatkan kinerja unit organisasinya.

Dengan mengembangkan kompetensi profesional dan kompetensi pribadi, diharapkan pustakawan mampu menjadi mitra sejati bagi para sivitas akademika (dosen, mahasiswa, peneliti) dan masyarakat pada umumnya, disamping itu, pustakawan juga harus proaktif menyediakan bahan pustaka yang diperlukan dalam penulisan artikel ilmiah maupuan penelitian, sehingga mampu menunjang peran perguruan tinggi yaitu menjunjung Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *