Peran Pustakawan Dalam Meningkatkan Literasi Masyarakat Indonesia

Pustakawan merupakan pejuang literasi bangsa yang dituntut untuk memberikan contoh baik, khususnya yaitu dalam budaya membaca dan menulis. Menulis merupakan kegiatan intelektual pustakawan yang banyak memberikan manfaat.
Hal tersebut dilakukan agar literasi masyarakat Indonesia yang masih dianggap rendah dapat meningkat melalui peran aktif pustakawan di Indonesia. Pustakawan merupakan tenaga profesional perpustakaan yang dituntut untuk senantiasa mengembangkan potensi diri dan profesinya secara berkelanjutan.
Berdasarkan survei John W. Miller (President of Central Connecticut State University In New Britain, Conn), diketahui bahwa perilaku literasi seperti membaca dan menulis masyarakat Indonesia hanya di atas satu tingkat dari Bostwana yang menjadi peringkat ke 61 (Straus, 2016).
Data literasi yang lain juga dapat dilihat pada media masa Republika Online (15 Desember 2014), yang mana bahwa kondisi literasi masyarakat di Indonesia masih sangat rendah. Hal tersebut terlihat dari salah satu hasil survei penelitian yang dilakukan oleh Programme For International Student Assessment (PISA) tahun 2010 dan 2012, dijelaskan bahwa
(1) pada tahun 2010 tingkat pembaca siswa, Indonesia urutan ke 57 dari 65 negara. Dalam kasus ini tidak ada satu pun di Indonesia yang meraih nilai literasi di tingkat kelima, hanya 0,4% siswa yang memiliki kemampuan literasi tingkat ke empat, selebihnya di bawah tingkat tiga atau bahkan di bawah tingkat satu;
(2) pada tahun 2012 tingkat literasi masyarakat Indonesia menempati urutan ke 64 dan 65 negara di dunia, Indonesia di atas 1 tingkat Bostwana dan ini merupakan hal yang terburuk terhadap kondisi literasi masyarakat Indonesia.
Melihat kondisi di atas, pemerintah (dalam hal ini Perpusnas RI) harus melakukan langkah-langkah strategis untuk meningkatkan literasi masyarakat Indonesia. Dwiyanto (2007) mengatakan bahwa Perpusnas RI telah memasukkan program literasi informasi ke masyarakat dalam bagian dalam Rencana Induk Perpustakaan Nasional tahun 2006- 2015. Program literasi tersebut dilaksanakan dalam bentuk kegiatan:
(1) penyelenggaraan lomba-lomba penulisan, baik berupa hibah penelitian bidang kepustakawanan, lomba membaca dan menulis karya populer, penulisan artikel, dan resensi buku;
(2) menyelenggarakan “kampanye” gerakan minat baca ke masyarakat;
(3) pembukaan layanan terbuka bagi masyarakat yang dilengkapi dengan fasilitas teknologi informasi yang memadai;
(4) mengoptimalkan layanan perpustakaan keliling dengan sistem penjadwalan yang jelas dan dilengkapi dengan teknologi informasi yang memadai;
(5) pengembangan website PNRI http://www.pnri.go.id yang menyediakan konten informasi dan database open access dan gratis untuk kepentingan pendidikan dan penelitian;
(6) penyelenggaraan kegiatan pelatihan, seminar, dan kajian-kajian mengenai literasi informasi;
(7) melakukan pembinaan-pembinaan ke daerah dan masyarakat terkait dengan literasi informasi.
Setelah program-program literasi masyarakat di atas diketahui pustakawan, langkah berikutnya adalah menyiapkan kompetensi dan strategi untuk menyukseskan program literasi masyarakat yang telah direncanakan oleh Perpusnas RI.
Kompetensi literasi pustakawan disiapkan dalam rangka mencapai target dan tujuan literasi masyarakat, yaitu melek teknologi dan informasi. Kompetensi literasi pustakawan yang dimaksud adalah literasi global (global literacies).
Zaini (2010) menjelaskan kompetensi global literacies dari perspektif kepimimpinan (leadership) di dunia pemasaran/bisnis. Menurutnya kompetensi literasi global ada empat, yaitu personal literacy, social literacy, bussiness literacy, dan cultural literacy. Penerapan kompetensi literasi global ke pustakawan sebagai berikut.
Personal literacy, kompetensi yang berkaitan dengan intropeksi diri. Pustakawan harus mampu mengevaluasi dirinya sendiri sebelum memberikan pelayanan informasi kepada pengguna, mampu atau tidak?
Social literacy, kompetensi yang berkaitan dengan pemahaman terhadap realitas kehidupan sosial masyarakat yang dilayaninya. Dalam hal ini, pustakawan dituntut lebih aktif bersosialisasi dan berbagi pengetahuan dengan pengguna.
Bussines literacy, kompetensi yang berkaitan dengan personal branding pustakawan dan lembaganya. Literasi ini dapat diterapkan dengan pendekatan bisnis/pemasaran.
Culture literacy, kompetensi literasi yang terkait dengan kemampuan pustakawan untuk memahami karakteristik, perilaku, kebiasaan, dan budaya masyarakat yang dilayani. Pustakawan harus memberikan pelayanan secara prima kepada siapa pun, tanpa adanya sikap diskriminasi kepada pengguna.
Keempat kompetensi literasi global di atas menjadi bekal pustakawan untuk melaksanakan program-program literasi ke masyarakat. Ada beberapa strategi yang perlu dilaksanakan oleh pustakawan agar program-program literasi informasi berhasil dan bermanfaat bagi orang lain/masyarakat, antara lain:
Melakukan evaluasi diri sebagai motivator literasi Evaluasi diri dilakukan dalam rangka mengetahui kemampuan dan pengetahuan pustakawan terhadap isu-isu literasi yang berkembang di masyarakat. Program literasi yang disampaikan pustakawan harus tepat sasaran agar memberikan manfaat bagi masyarakat.
Mengidentifikasi kebutuhan informasi pengguna potensial 20 Pengguna potensial yang dimaksud adalah pengguna atau masyarakat yang sangat membutuhkan jasa pustakawan dan perpustakaan. Untuk mengetahui pengguna potensial, pustakawan harus melakukan survei atau profiling lembaga yang bersangkutan..
Menetapkan materi ajar literasi informasi sesuai kebutuhan pengguna Materi merupakan bahan baku informasi yang akan disampaikan kepada pengguna/masyarakat. Pustakawan harus menyiapkan materi literasi dalam format yang menarik dan aplikatif. Materi literasi ini sangat menentukan keberhasilan program literasi informasi yang disampaikan ke pengguna/masyarakat.
Membangun kerjasama berbasis kemitraan secara berkelanjutan Hal ini perlu dilakukan pustakawan dalam rangka meningkatkan jaringan kerjasama dengan perpustakaan dan stakeholders. Sistem kerjasama dilaksanakan dengan sistem kemitraan (saling menguntungkan) dan berkelanjutan. Apabila hal ini dapat terwujud, maka program-program literasi yang dirancang pustakawan dianggap telah berhasil.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa literasi informasi masyarakat dapat dibangun melalui budaya membaca dan menulis masyarakat yang dilaksanakan secara konsisten dan berkesinambungan.
Pustakawan sebagai pejuang literasi bangsa harus menyiapkan program-program inovatif yang terkait dengan literasi perpustakaan dan masyarakat, serta mampu memberikan contoh-contoh nyata melalui karya tulis bidang kepustakawanan. Pustakawan dapat menjadi motivasi bagi anak-anak bangsa di Indonesia.
Dari beberapa fakta di atas jelas bahwa menulis dan membaca adalah suatu perjuangan untuk meningkatkan literasi di Indonesia yang masih tergolong sangat rendah. Dengan membaca dan menulis akan meningkatkan intelektual bangsa Indonesia.
Melalui tulisan, para penulis akan mendapatkan banyak manfaat khususnya yang terkait dengan pengembangan profesi dan pengakuan status dan eksistensi profesi di masyarakat.
Pustakawan adalah pejuang dalam meningkatkan literasi masyarakat Indonesia sehingga melalui pustakawan tercapainya tujuan dari program literasi yang diselenggarakan pemerintah. Tidak ada lagi alasan mengapa seseorang tidak menulis? Menulis bagi seorang penulis bukanlah suatu pilihan, melainkan suatu keharusan

Ditulis pada Uncategorized | Tinggalkan komentar

Sosiologi Informasi Pemanfaatan di Perpustakaan Perguruan Tinggi

Perpustakaan merupakan salah satu pranata sosial yang diciptakan dan dipelihara oleh masyarakat. Dimana perpustakaan selalu identik dengan tujuan masyarakat, hal tersebut terjadi karena perpustakaan merupakan hasil ciptaan masyarakat. Perpustakaan merupakan pranata yang dapat menemukan kembali informasi yang baku serta ruang lingkupnya yang begitu luas. Peran perpustakaan juga memiliki efek sosial budaya, selain peran edukatif. Berkaitan dengan aspek sosial budaya, maka secara umum perpustakaan berperan dalam pengumpulan, pengolahan dan penyimpanan informasi yang dikumpulkan dalam bentuk tercetak maupun dalam tidak tercetak. Selain itu perpustakaan berperan dalam media untuk meneliti, mengkaji dan mengembangkan penelitian untuk digunakan sebagai landasan referensi penuntun dalam pengembangan keilmuan kedepannya. Serta Perpustakaan dengan segala karakteristiknya bisa menjadi agen perubah sosial.Dalam peranannya, perpustakaan sangat berkaitan dengan perubahan sosial. Peranan yang dilakukannya menghubungkan antara sumber informasi dan ilmu pengetahuan yang terkandung di dalam koleksi dan fasilitas perpustakaan dengan para pemustakanya. Selain itu peran perpustakaan adalah sebagai lembaga pendidikan nonformal bagi pemustakanya. Mereka dapat belajar secara otodidak, melakukan penelitian, menggali dan memanfaatkan sumber informasi dan ilmu pengetahuan yang ada di perpustakaan.Berkaitan dengan banyaknya sumber informasi dan pemustaka yang membutuhkan, serta kemudahan dalam mengaksesnya yang tidak mengenal ruang dan waktu. Pemustaka dengan mudah bisa mendapatkan informasi yang diinginkan. Berbagai bentuk dan media yang menyajikan informasi membuat pemustakanya semakin bertambah. Salah satu sumber informasi itu adalah perpustakaan. Dengan perubahan – perubahan perpustakaan yang ada diharapkan bisa membuat pemustaka lebih sering mengunjungi perpustakaan dibanding sumber informasi yang lain. Didalam perpustakaan banyak pemustaka yang datang memanfaatkan koleksi dan fasilitas sebagai bahan referensi atau rujukan dalam memenuhi kebutuhan informasi.Dalam perkembangan informasi, dimana didukung dengan adanya kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang telah memberikan banyak kemudahan bagi pemustaka untuk mengakses informasi yang dibutuhkannya. Terutama dengan adanya situs search engine di internet. Seolah-olah tidak ada lagi batasan geografis. Informasi dari berbagai penjuru dunia bisa didapatkan dengan mudah, begitu juga dengan ilmu pengetahuan dan pendidikan. Lalu bagaimanakah dengan keberadaan perpustakaan sendiri. Perpustakaan yang merupakan sebuah ruangan yang berisi koleksi-koleksi baik cetak maupun digital yang disusun dengan sistematika tertentu juga menyediakan informasi yang melimpah yang tak kalah dengan internet. Sehingga di zaman sekarang perpustakaan pun telah mengadaptasi teknologi informasi untuk menunjang operasional perpustakaan sehingga lebih dinamis dan sesuai perkembangan zaman yang menuntut perkembangan informasi dan perluasannya yang sangat cepat. Pergeseran fungsi perpustakaan juga tampak nyata dalam realisasinya, yang dahulu hanya sebagai penyimpan dokumen maupun informasi, namun sekarang telah berubah sebagai penyedia dan penyalur informasi yang terus berkembang pesat yaitu salah satunya adanya teknologi informasi.Perkembangan informasi dan teknologi yang begitu pesat berdampak pada perpustakaan, khususnya perpustakaan perguruan tinggi. Perpustakaan perguruan tinggi terdiri dari Perpustakaan Universitas, Akademik, Sekolah Tinggi, dan Institut. Pada awalnya perpustakaan hanya berisi koleksi buku-buku ataupun majalah yang tergolong ke dalam koleksi cetak, namun dengan perkembangan teknologi informasi, koleksi perpustakaan menjadi berkembang, dalam bentuk CD, file digital dll. Dengan kehadiran teknologi informasi di perpustakaan memudahkan bagi pustakawan untuk mengelola koleksi dan sumber informasi atau juga menyusahkan pustakawan dalam pengaplikasian maupun perawatannya.Di dalam kegiatan operasionalnya, perpustakaan mempunyai aturan yang mengatur  semua  aspek. Mulai dari petugas sampai pemustaka jasa layanan perpustakaan.Dimana aturan tentang perpustakaan diatur  dalam Undang-undang  Nomor  43  tahun  2007  tentang Perpustakaan terdapat pada “pasal 6” tentang hak, kewajiban dan kewenangan anggota perpustakaan. Pemaknaan akan “pasal 6” ini menjelaskan bahwa setiap anggota masyarakat atau  pemustaka layanan perpustakaan harus menjaga perpustakaan, baik kelestarian koleksi  perpustakaan,  mematuhi aturan dan ketentuan perpustakaan dan keamanan,  ketertiban serta  kenyamanan lingkungan perpustakaan.Pelanggaran yang terjadi di perpustakaan merupakan ketidaksesuaian  antara  aturan dan  kenyataan.  Ketidaksesuaian  antara  yang ideal  dan  kenyataan  tersebutlah  yang  disebut dengan penyimpangan. Menurut Becker (Horton.1999:191) ‘bahwa penyimpangan bukanlah kualitas dari sesuatu tindakan yang dilakukan  seseorang,  melainkan  konsekuensi  dari adanya  peraturan  dan  penerapan  sanksi  yang dilakukan  oleh  orang  lain  terhadap  pelaku tindakan tersebut’. Bisa dikatakan pelanggaran yang dilakukan anggota perpustakaan  tersebut sebagai penyimpangan dari konsekuensi aturan yang ada. Pelanggaran yang dilakukan setiap pemustaka di perpustakaan dikatakan menyimpang karena melanggar aturan yang ada di perpustakaan. Dikarenakan aturan – aturan yang ada di perpustakaan perguruan tinggi terlalu mengikat pribadi para pemustaka, sehingga membuat perilaku pemustaka sedikit menyimpang.Perpustakaan  diklasifikasikan  sesuai dengan  kebutuhan  pemakai  atau  pemustakanya seperti perpustakaan umum, perpustakaan khusus, perpustakaan  sekolah,  perpustakaan  perguruan tinggi  dan  perpustakaan  nasional.  Perpustakaanyang  akan  dibahas  dalam  penulisan  ini  adalah perpustakaan perguruan tinggi. Dimana Hermawan (2006:34) mengemukakan  bahwa  secara  umum  tujuan perpustakaan  perguruan  tinggi  adalah menunjang  tri  dharma  Perguruan  Tinggi,  yaitu penyelenggaraan  pendidikan,  penelitian  dan pengabdian  kepada  masyarakat.  Secara  khusus adalah  untuk  membantu  para  dosen  dan mahasiswa,  serta  tenaga  kependidikan  di perguruan tinggi dalam proses pembelajaran.

Permasalahan

Berdasarkan uraian di atas, tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bagaimana kesiapan perpustakaan sebagai penyedia informasi yang mengadaptasi teknologi informasi ke dalam perpustakaan, dalam kaitannya penyimpangan pemustaka informasi media dan perubahan sosial dalam pencarian informasi?Penulisan ini mengungkapkan secara mendalam tentang  perilaku  manusia  dalam  suatu realitas. Tipe penulisan ini adalah studi kasus intrinsik karena penulis ingin  mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang pelanggaran yang dilakukan mahasiswa dalam pemanfaatan perpustakaan perguruan tinggi. Teknik pengumpulan  data  dalam penulisan ini adalah  observasi, wawancara dan dokumentasi.

Pembahasan

Perilaku menyimpang yang biasa dilakukan pemustaka di perpustakaan yaitu merobek koleksi perpustakaan, memotret karya ilmiah (skripsi) di perpustakaan, mengacak-acak, menyembunyikan koleksi perpustakaan kelokasi lain, serta di era teknologi penyabotase/ penyalahgunaan jaringan sistem perpustakaan, atau pencurian jaringan internet. Adapun  penyebab dari perilaku menyimpang pemustaka di perpustakaan sebagai berikut:

Ketidaksanggupan menyerap norma-norma kebudayaan yang ada di lingkungan masyarakat. Pemustaka yang tidak sanggup menyerap norma-norma kebudayaan ke dalam kepribadiannya, ia tidak dapat membedakan hal yang pantas dan tidak pantas. Keadaan itu terjadi akibat dari proses sosialisasi yang tidak sempurna.

Selain itu Kuatnya norma yang mengatur pemustaka layanan perpustakaan menyebabkan pemustaka melakukan penyimpangan. Hirschi, menjelaskan pengendalian terhadap penyimpangan tidak hanya dari pengendalian bathin tapi juga pengendalian luar. Pengendalian luar terdiri atas orang-orang yang berpengaruh terhadap individu agar tidak menyimpang (Hirschi dalam Henslin  2007:154). Dilihat di  perpustakaan perguruan tinggi, petugas perpustakaan mempunyai kendali untuk mengatur pemustaka agar tidak menyimpang. Kenyataannya, aturan yang ada memaksa mahasiswa menyimpang karena mahasiswa merasa aturan tersebut terlalu berlebihan dan aturannya terlalu ketat terutama pada ruang layanan umum, ruang layanan skripsi/ tesis/ disertasi/ jurnal, serta ruang layanan baca elektronik. Sehingga mahasiswa  merobek koleksi atau memotret koleksi, serta berusaha mencuri atau membobol file yang ada di komputer.

Perubahan Sosial Masyarakat

Pengertian perubahan sosial, menurut ”Gillin and Gillin” adalah suatu variasi dan cara-cara hidup yang telah diterima baik karena perubahan-perubahan kondisi geografis, kebudayaan, komposisi penduduk, ideologi maupun karena adanya difusi (penemuan-penemuan baru dalam masyarakat) Diambil dari (http://id.shvoong.com/social-sciences/sociology/2345324-pengertian-contoh-perubahan-sosial-di/, pada tanggal 26-05-2014 pukul 00.51 wib).

Menurut ”Rogers”, perubahan sosial melewati beberapa tahap, diantaranya:

1. Invensi, yaitu suatu situasi atau kondisi seseorang untuk menciptakan ide. Ide tersebut bisa datang dari bahan pustaka, penelitian orang lain atau tulisan orang lain.

2. Adopsi, yaitu suatu proses yang menunjukkan bahwa informasi tersebut bisa diterima oleh individu maupun masyarakat

3. Konsekuensi, yaitu keadaan individu atau masyarakat untuk bisa menerima atau menolak terhadap perubahan tersebut.

Sifat Dan Proses Perubahan

Dalam proses perubahan akan menghasilkan penerapan diri konsep atau ide terbaru, Menurut Lancaster tahun 1982,  proses perubahan memiliki tiga sifat diantaranya perubahan bersifat berkembang , spontan dan di rencanakan.

1. Perubahan bersifat berkembang       

Sifat perubahan ini mengikuti dari proses perkembangan yang baik pada individu, kelompok atau masysrakat secara umum , proses perkembangan ini dimulai dari keadaan atau yang paling besar menuju keadaan yang optimal atau matang ,sebagai mana dalam perkembangan manusia sebagai mahluk individu yang memiliki sifat yang selalu berubah dalam tingkat perkembangan nya.

2. Perubahan bersifat spontan

Sifat perubahan ini dapat terjadi karena keadaan yang dapat memberikan respon tersendiri terhadap kejadian-kejadian yang bersifat alamiah yang  diluar kehendak manusia yang tidak diramalkan atau diprediksi hingga sulit untuk di antisipasi seperti perubahan keadaan alam, tanah longsor banjir dll. Semuanya akan menimbulkan terjadi perubahan baik dalam diri, kelompok atau masyarakat bahkan pada sistem yang mengaturnya.

3. Perubahan bersifat direncanakan

Perubahan bersifat direncanakan ini dilakukan bagi individu, kelompok atau masyarakat yang ingin mengadakan perubahan yang kearah yang lebih maju atau mencapai tingkat perkembangan yang lebih baik dari keadaan yang sebelumnya, sebagaimana perubahan dalam sistem pendidikan keperawatan di Indonesia yang selalu mengadakan perubahan sejalan dengan perkembangan ilmu kedokteran dan sistem pelayanan kesehatan pada umumnya.

Perubahan Perpustakaan

Perpustakaan adalah salah satu unit kerja yang berupa tempat untuk mengumpulkan, menyimpan, mengelola, dan mengatur koleksi bahan pustaka secara sistematis untuk digunakan oleh pemustaka sebagai sumber informasi. Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa perpustakaan adalah suatu organisasi yang bertugas mengumpulkan informasi, mengolah, menyajikan dan melayani kebutuhan informasi bagi pemustaka perpustakaan. Dari pengertian tersebut terlihat bahwa perpustakaan adalah suatu organisasi, artinya perpustakaan merupakan suatu badan yang di dalamnya terdapat sekelompok orang yang bertanggung jawab mengatur dan mengendalikan perpustakaan.

Perpustakaan Konvensional menuju Perpustakaan Digital

Layanan ini diharapkan dapat mempermudah pencarian informasi di dalam koleksi obyek informasi seperti dokumen, gambar dan database dalam format digital dengan cepat, tepat dan akurat. Perpustakaan digital itu tidak berdiri sendiri, melainkan terkait dengan sumber-sumber lain dan pelayanan informasinya terbuka bagi pengguna diseluruh dunia. Koleksi perpustakaan digital tidaklah terbatas pada dokumen elektronik pengganti bentuk cetak saja. Koleksi menekankan pada isi informasi. Perbedaan perpustakaan biasa dengan perpustakaan digital terlihat pada keberadaan koleksi. Koleksi digital tidak harus berada disebuah tempat fisik sedangkan koleksi biasa teletak pada sebuah tempat yang menetap yaitu perpustakaan. Perbedaan kedua terlihat dari konsepnya. Konsep perpustakaan digital identik dengan internet atau komputer, sedangkan konsep perpustakaan biasa adalah buku-buku yang terletak pada suatu tempat. Perbedaan ketiga, perpustakaan digital bisa dinikmati pemustaka dimana saja.

Ada beberapa hal yang mendasari pemikiran tentang perlu dilakukannya digitalisasi perpustakaan sebagai berikut :

1. Perkembangan teknologi informasi di komputer semakin membuka peluang-peluang baru bagi pengembangan teknologi informasi perpustakaan yang murah dan mudah di implementasikan oleh perpustakaan di perguruan tinggi. Oleh karena itu, saat ini teknologi informasi sudah menjadi keharusan bagi perpustakaan di perguruan tinggi, terlebih untuk menghadapi tuntutan kebutuhan proses belajar mengajar sebuah perguruan tinggi yang berbasis pengetahuan terhadap informasi di masa mendatang.

2. Perpustakaan sebagai lembaga edukatif, informative, perservatif dan rekreatif yang diterjemahkan sebagai bagian aktifitas ilmiah, tempat penelitian, tempat pencarian data/informasi yang otentik, tempat menyimpan, tempat menyelenggarakan seminar dan diskusi ilmiah, tempat rekreasi edukatif, dan komtemplatif. Maka perlu didukung dengan sistem teknologi informasi masa kini dan masa yang akan datang yang sesuai dengan kebutuhan untuk mengakomodir aktifitas tersebut, sehingga informasi dari seluruh koleksi yang ada dapat diakses oleh berbagai pihak yang membutuhkannya dari dalam maupun luar negeri.

3. Dengan fasilitas digitalisasi perpustakaan, maka koleksi-koleksi yang ada dapat dibaca/ dimanfaatkan oleh pemustaka luas baik di ruang lingkup internal perguruan tinggi, maupun pemustaka dari luar perguruan tinggi yang berbeda.

4. Volume pekerjaan perpustakaan yang akan mengelola puluhan ribu hingga ratusan ribu, bahkan bisa jutaan koleksi. Sehingga perlu didukung dengan sistem otomasi yang futuristic (punya jangkauan kedepan), sehingga selalu dapat mempertahankan layanan yang prima.

5. Saat ini sudah banyak perpustakaan, khususnya di perguruan tinggi dengan kemampuan dan inisiatifnya sendiri telah merintis pengembangan teknologi informasi dengan mendigitasi perpustakaan (digital library) dan libarary automation yang saat ini sudah mampu membuat sistem jaringan Perpustakaan Digital.

Kesimpulan Dan Saran

Dengan adanya perubahan sosial yang terjadi di kalangan pemustaka pada era ini disebakan oleh kemajuan teknologi yang semakin berkembang. Sehingga setidaknya pemustaka harus menyesuaikan diri dengan perkembangan yang ada. Begitu juga dengan perpustakaan. Perpustakaan juga semakin berubah dan berkembang dari perpustakaan konvensional ke perpustakaan digital. Dimana penerapan sistem perpustakaan digital dengan menerapkan teknologi informasi sebagai sarana untuk menyimpan, mendapatkan dan menyeberluaskan informasi ilmu pengetahuan dalam format digital.Salah satu perubahan sosial pada perpustakaan dilihat dari sikap pemustaka saat ini adalah kenyataan di dalam mencari informasi melalui internet dengan menggunakan fasilitas web search engine. Banyak pemustaka pada umumnya akhirnya malas untuk mencari informasi di perpustakaan ataupun pusat informasi karena menurut pemustaka terlalu repot harus datang ke perpustakaan mencari yang di inginkan, belum lagi koleksi perpustakaan tersebut sangat terbatas, sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan informasi yang diperlukan pemustaka. Tetapi adanya perubahan fasilitas yang ada pada perpustakaan diharapkan pemustaka bisa memanfaatkan layanan perpustakaan didalam menemukan informasi yang dibutuhkan oleh pemustaka tersebut.Penyebab dari perilaku menyimpang pemustaka di perpustakaan Ketidaksanggupan menyerap norma-norma kebudayaan yang ada di lingkungan. Pemustaka yang tidak sanggup menyerap norma-norma kebudayaan ke dalam kepribadiannya, ia tidak dapat membedakan hal yang pantas dan tidak pantas. Keadaan itu terjadi akibat dari proses sosialisasi yang tidak sempurna. Kemudian penyebab yang lain penyebab dari perilaku menyimpang adalah Ketegangan antara kebudayaan dan struktur sosial. Terjadinya ketegangan antara kebudayaan dan struktursosial dapat mengakibatkan terjadinya perilaku yang menyimpang. Hal itu terjadi jika dalam upaya mencapai suatu tujuan seseorang tidak memperoleh peluang, sehingga ia mengupayakan peluang itu sendiri, maka terjadilah perilaku menyimpang. Ikatan sosial yang berlainan. Setiap orang umumnya berhubungan dengan beberapa kelompok. Jika pergaulan itu mempunyai pola-pola perilaku yang menyimpang, maka kemungkinan ia juga akan mencontoh pola-pola perilaku menyimpang.

Ditulis pada Uncategorized | Tinggalkan komentar

Popularitas Perpustakaan Semakin Pudar Dilibas Digital

Perkembangan teknologi semakin memberi kemudahan bagi masyarakat untuk mengakses informasi. Sumber ilmu pengetahuan yang pada masa lalu berada di ruang-ruang perpustakaan, kini berada dalam genggaman gawai. Internet menjadi jalan pintas bagi publik untuk mengonsumsi informasi. Popularitas perpustakaan di tengah masyarakat semakin pudar.

Selama beberapa tahun terakhir, minat masyarakat untuk mengunjungi perpustakaan terus turun. Hal itu setidaknya tampak dari merosotnya jumlah kunjungan masyarakat ke Perpustakaan Nasional selama lima tahun terakhir.

Perpustakaan terbesar dan memiliki koleksi paling lengkap di Indonesia itu rata-rata hanya dikunjungi 403.000 orang per tahun. Kondisi ini jauh di bawah negara Singapura. Di negara tetangga yang jumlah penduduk jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan Indonesia itu, Perpustakaan Nasional-nya dikunjungi lebih dari 1 juta orang per tahun.

Rendahnya kunjungan masyarakat ke perpustakaan juga terlihat di perpustakaan milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Dalam lima tahun terakhir, pengguna jasa perpustakaan daerah sekitar 400.000 orang. Sementara penikmat perpustakaan keliling yang dikelola Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah DKI Jakarta hanya sekitar 200.000 orang per tahun. Padahal, Pemprov DKI Jakarta tiap tahun terus menambah jumlah koleksi buku- buku di perpustakaan tersebut.

Selaras dengan hasil jajak pendapat ini, kultur membaca dan berkunjung ke perpustakaan memang masih minim. Meski mayoritas publik jajak pendapat ini mengaku pernah mengunjungi perpustakaan di daerahnya, intensitasnya sangat jarang. Sebagian terbesar responden mengaku kunjungan ke perpustakaan dilakukan hanya pada saat masih sekolah dan ketika mengerjakan tugas dari sekolah.Jika dicermati, pengakuan itu paralel dengan tingkat pendidikan publik. Semakin tinggi tingkat pendidikan responden, semakin besar pula intensitas kunjungan ke perpustakaan.

Selain berkompetisi dengan teknologi digital yang bisa diakses melalui gawai, rendahnya minat berkunjung ke perpustakaan antara lain juga dipengaruhi oleh belum memadainya akses masyarakat ke perpustakaan. Setidaknya hal ini tergambar dari pengumpulan pendapat yang dilakukan oleh Litbang Kompas.

Lebih dari separuh responden yang berhasil dirangkum pendapatnya menilai saat ini perpustakaan di daerah tempat tinggal mereka belum bisa diakses secara bebas oleh masyarakat umum. Sebagian pengelola perpustakaan masih mensyaratkan keanggotaan jika masyarakat ingin mengakses atau meminjam buku di perpustakaan.

Minat baca rendah

Selain itu, minat baca masyarakat masih dianggap rendah. Setiap tiga dari empat responden menilai minat baca, terutama kalangan remaja, masih rendah. Rendahnya minat baca di negeri ini juga tecermin dari kebiasaan membaca buku masyarakatnya.

Meski angka melek huruf Indonesia telah mencapai 93 persen, kebiasaan membaca buku di antara warga masyarakat masih rendah dibandingkan dengan penduduk di beberapa negara Asia lainnya. Rata-rata lama membaca buku warga Indonesia hanya enam jam per minggu. Sementara di India rata-rata lama membaca warganya sepuluh jam per minggu, Thailand sembilan jam, dan Tiongkok delapan jam per minggu.

Tak hanya itu, Survei Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) tahun 2012 menyebutkan, kebiasaan membaca masyarakat Indonesia lebih rendah dibandingkan dengan warga negara Asia lain.

Hanya 1 dari 1.000 orang Indonesia memiliki minat baca serius. Rata-rata membaca buku penduduknya pun kurang dari 1 judul buku per tahun, sementara penduduk Jepang setiap tahun membaca 10-15 judul buku. Sementara orang Amerika sebanyak 20-30 judul buku per tahun.

Salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan minat baca masyarakat adalah dengan mencanangkan bulan gemar membaca yang diselenggarakan pada bulan September. Tanggal 14 September pun ditetapkan sebagai hari kunjungan perpustakaan.

Namun, upaya ini cenderung terkesan sebagai gerakan seremonial semata. Hari Kunjungan Perpustakaan diperingati oleh perpustakaan di seluruh Indonesia dengan menggelar berbagai kegiatan seperti pameran, perlombaan yang bertujuan mempromosikan berbagai koleksi, produk, dan layanan yang dimiliki, serta kegiatan yang menumbuhkan minat baca.

Publik melihat dari kacamata yang lain. Harus ada upaya yang lebih nyata dari pemerintah untuk meningkatkan minat baca masyarakat. Sebagian terbesar responden dalam jajak pendapat ini, misalnya, mendorong pemerintah untuk mewajibkan masyarakat, khususnya pelajar, untuk mengunjungi perpustakaan. Setidaknya upaya ini dapat menggugah kembali kesadaran masyarakat akan pentingnya perpustakaan sebagai salah satu sumber informasi, sarana belajar, dan sarana rekreasi ilmiah.

Fungsi perpustakaan

Perpustakaan menjadi sarana dan prasarana penting untuk mendorong minat baca masyarakat. Secara umum, perpustakaan memiliki empat fungsi, yakni pertama sumber informasi yang menyimpan karya cetak, seperti buku, majalah, dan sejenisnya serta karya rekaman, seperti kaset, piringan hitam, dan sejenisnya.

Perpustakaan juga menjadi sarana pendidikan dan pembelajaran nonformal dan informal. Artinya, perpustakaan menjadi tempat belajar ideal di luar sekolah. Selain itu, perpustakaan juga bisa menjadi sarana rekreasi. Perpustakaan sebagai tempat untuk menikmati rekreasi kultural dengan cara membaca. Fungsi penting lain dari perpustakaan adalah sebagai penunjang kegiatan penelitian.

Pentingnya fungsi perpustakaan itu secara tak langsung disadari oleh publik. Jajak pendapat ini merekam harapan publik akan pentingnya perpustakaan di lingkungan mereka. Sedikitnya empat dari setiap lima responden yang berhasil diwawacarai mengaku perlu dibuatkan perpustakaan bagi warga di sekitar tempat tinggal mereka. Selain bisa menumbuhkan minat baca masyarakat, perpustakaan juga diharapkan dapat memperkaya pengetahuan warga.

Untuk mendorong antusiasme masyarakat berkunjung ke perpustakaan, idealnya perpustakaan perlu dikelola secara partisipatif oleh masyarakat. Jika memungkinkan, adanya fasilitas kehadiran pustakawan bisa menjadikan perpustakaan sebagai tempat yang menarik dikunjungi karena koleksinya dikelola oleh profesional.

Atau dengan kata lain, ada keselarasan antara kehadiran perpustakaan dengan kebutuhan dan keinginan masyarakat. Jika hal itu dapat diupayakan, direalisasikan, dan dikelola dengan baik di tingkat komunitas, perpustakaan dapat diberdayakan sebagai salah satu tempat untuk mencerdaskan masyarakat.

Ditulis pada Uncategorized | Tinggalkan komentar

PERAN FILSAFAT PERPUSTAKAAN

Rincian peranan filsafat perpustakaan :

  1. Filsafat perpustakaan, menunjukkan problema yang dihadapi oleh perpus-takaan, sebagai hasil dari pemikiran mendalam, dan berusaha untuk memahami duduk masalahnya. Dengan analisa filsafat maka filsafat perpustakaan bisa menunjukkan alternatif-alternatif pemecahan masalah tersebut. Setelah melalui proses seleksi terhadap alternatif-alternatif tersebut, yang mana yang paling efektif maka dilaksanakan alternatif tersebut dalam praktik kepustakawanan.
  2. Filsafat perpustakaan, memberikan pandangan tertentu yang berkaitan dengan sarana pembelajaran yang secara hakikat berkaitan dengan tujuan hidup manusia. Filsafat perpustakaan berperan untuk menjabarkan bentuk-bentuk tujuan baik secara umum, khusus, maupun yang operasional sehingga perpustakaan berperan sebagai sarana pembelajaran dan aktivitas pelaksanaan perpustakaan mendukung tujuan pendidikan nasional.
  3. Filsafat perpustakaan dengan analisanya terhadap fungsi dan tujuan perpustakaan, berkesimpulan bahwa sumber daya manusia mempunyai potensi pembawaan yang harus ditumbuhkan dan dikem-bangkan. Hal ini memberi pemahaman bahwa perpustakaan dapat berfungsi sebagai penggerak utama dalam rangka meningkatkan kecerdasan kehidupan bangsa dengan mengembang-kan dan mendayagunakan perpustakaan sebagai sarana yang berisi informasi yang mendukung keberhasilan pendidikan.
  4. Filsafat perpustakaan, dalam analisanya terhadap masalah-masalah kecerdasan bangsa yang kini dihadapinya, akan dapat memberikan informasi apakah sistem perpustakaan yang dalam sistem pendidikan nasional yang selama ini berjalan mampu membentuk masyarakat (pemustaka) untuk mempunyai budaya baca dan belajar sepanjang hayat dengan menjadikan perpustakaan sebagai sumber informasi, ilmu pengetahuan, teknologi, kesenian, dan kebudayaan, atau tidak. Artinya, peran filsafat perpustakaan dapat merumuskan di mana letak kelemahan-nya, dan bisa memberikan alternatif-alternatif perbaikan dan pengembangan-nya.
Ditulis pada Pengantar Filsafat Ilmu, Uncategorized | Tinggalkan komentar

ARTI PENTING KOMUNIKASI

Komunikasi adalah suatu proses atau kegiatan penyampaian pesan dari seseorang kepada orang lain untuk mencapai tujuan tertentu. Komunikasi adalah prasyarat kehidupan manusia. Kehidupan manusia akan tampak hampa apabila tidak ada komunikasi. Karena tanpa komunikasi, interaksi antar manusia, baik secara perorangan, kelompok, ataupun organisasi tidak mungkin dapat terjadi. Dua orang dikatakan melakukan interaksi apabila masing-masing melakukan aksi dan reaksi. Aksi dan reaksi dilakukan manusia baik secara perorangan, kelompok, atau organisasi.

Di era teknologi dan perkembangan zaman saat ini yang sangat pesat, komunikasi merupakan hal yang sangat berpengaruh terhadap segala aspek yang berkaitan dengan aktifitas manusia dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa komunikasi maka segala aktifitas apapun tidak akan berlangsung. Tak heran apabila saat ini orang yang pandai berkomunikasi maka ia akan menjadi lebih terdepan di banding orang-orang yang lemah dalam komunikasi. Banyak orang yang pintar komunikasi menjadi pimpinan dimana orang tersebut membawahi orang-orang pintar padahal dianya sendiri bisa jadi tidak lebih pintar dari bawahannya. Namun karena kepiawaiannya dalam komunikasi maka ia mampu mempengaruhi orang lain untuk mengikuti arahan dan petunjuknya sehingga dianya menjadi orang yang di segani dan di hormati. Maka dari itu perlunya kita pahami dan pelajari seperti apa komunikasi itu dan bagaimana supaya kita menjadi orang piawai dalam berkomunikasi.

Sebagai makhluk sosial, kita tidak bisa menghindar dari tindakan komunikasi menyampaikan dan menerima pesan dari dan ke orang lain. Tindakan komunikasi ini terus menerus terjadi selama proses kehidupannya. Prosesnya berlangsung dalam berbagai konteks baik fisik, psikologis, maupun sosial, karena proses komunikasi tidak terjadi pada sebuah ruang kosong. Pelaku proses komunikasi adalah manusia yang selalu bergerak dinamis. Komunikasi menjadi penting karena fungsi yang bisa dirasakan oleh pelaku komunikasi tersebut. Melalui komunikasi seseorang menyampaikan apa yang ada dalam benak pikirannya dan perasaan hati nuraninya kepada orang lain baik secara langsung maupun tidak langsung. Melalui komunikasi seseorang dapat membuat dirinya tidak merasa terasing atau terisolasi dari lingkungan di sekitarnya.

Proses komunikasi dimulai dengan adanya seorang komunikator yang bermaksud untuk menyampaikan ide kepada orang lain. Dalam proses penyampaiannya si komunikator mencari bentuk penterjemahan ide sehingga dapat dipahami dengan baik oleh si penerima atau disebut encoding. Jika kita memilih media yang berbentuk tulisan, maka encoding adalah pemilihan kata-kata yang tepat. Tahap selanjutnya adalah proses penterjemahan kembali pesan (decoding) oleh si penerima pesan. Proses ini bisa melibatkan beragam sub proses seperti pemahaman terhadap kata-kata yang tertulis maupun terucap, penginterpretasian ekspresi muka dan lain sebagainya. Setelah pesan diterima, maka si penerima dapat mengirimkan pesan yang baru kembali kepada si komunikator, proses ini disebut balikan (feedback).

Ditulis pada Dasar - dasar Komunikasi, Uncategorized | Tinggalkan komentar