Peran Pustakawan di Era Informasi

Oleh : Rizka Dwi M (18540026)

Tidak banyak orang diluar sana yang menganggap bahwa profesi pustakawan adalah salah satu profesi yang penting di masyarakat. Bahkan kenyataannya masih sedikit orang yang mengakui pustakawan sebagai bagian dari profesi. Pustakawan masih belum bisa disejajarkan dengan profesi-profesi lainnya diluar sana. Padahal sebenarnya posisi sebagai pustakawan adalah posisi yang strategis dalam hal penguasaan informasi. Karena memang tugas utama dari pustakawan adalah menyediakan informasi bagi masyarakat. Jadi bukankah harusnya pustakawan akan selalu dibutuhkan? Seiring dengan kebutuhan informasi yang tidak ada batasnya. Namun disini pustakawan juga dituntut kreatif dan inovatif dalam memberikan berbagai bentuk layanan kepada masyarakat
Apalagi di era teknologi yang semakin canggih ini, pustakawan harus bisa memanfaatkan teknologi yang tersedia seiring dengan perkembangannya saat ini. Banyak yang menilai bahwa semakin beragamnya aplikasi atau mesin pencari informasi, tugas dari pustakawan ini bisa hilang begitu saja. Pernyataan ini harus diluruskan. Kepustakawanan adalah kegitan yang dinamis, kegiatan yang dapat mengikuti pola perkembangan era. Justru dengan perkembangan teknologi saat ini membuat pustakawan semakin terlihat canggih dan kekinian.
Beberapa tahun terakhir banyak isu-isu yang berkembang di lingkungan pustakawan. Disini profesi pustakawan sedang diuji dan dipertanyakan eksistensinya. Awalnya mungkin pustakawan menduduki zona nyamannya. Berlindung dibalik meja dan berkutat dengan segala kegiatan yang ada di dalam gedung perpustakaan. Namun seiring berjalannya waktu, tidak hanya sebatas itu kinerja seorang pustakawan. Mereka dituntut untuk melakukan gebrakan atau kegiatan yang inovatif untuk menunjang kegiatan dan eksistensi profesi pustakawan itu sendiri.

A. Pengertian Pustakawan dan Profesi Pustakawan
Pustakawan adalah seorang yang menyelenggarakan kegiatan perpustakaan dengan jalan memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai dengan tugas lembaga induknya berdasarkan ilmu yang dimiliki melalui pendidikan (Kode Etik Pustakawan, 1998:1). Dalam UU No.43 tahun 2007 Bab I Pasal 1 disebutkan bahwa pustakawan adalah seseorang yang memiliki kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan dan atau pelatihan kepustakawanan serta mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan pengelolaan dan pelayanan perpustakaan. Melihat dari dua pengertian tersebut bisa digaris bawahi jika seorang pustakawan adalah seseorang yang memberikan pelayanan kepada masyarakat (di bidang informasi) yang telah menempuh pendidikan kepustakawan.
Dari penjelasan diatas terlihat jelas bahwa pustakawan memiliki sifat profesionalitas karena untuk mendapatkan sebutan sebagai seorang pustakawan harus melalui pendidikan atau pelatihan tantang ilmu dasar kepustakawanan. Hal ini jelas berbanding terbalik dengan apa yang sudah diasumsikan oleh masyarakat. Masyarakat berpikir bahwa pustakawan adalah orang yang berdiri dibalik meja dan tugasnya menjaga perpustakaan. Mungkin memang jika dilihat dari luar pekerjaan pustakawan semudah itu. Namun kenyataannya pustakawan bukan hanya pekerjaan melainkan sebuah profesi.
Dalam mengolah perpustakaan maka dibutuhkan berbagai macam tenaga yang terampil di bidangnya. Itu artinya seluruh pustakawan dimana pun bagiannya dia bekerja semua tetap disebut sebagai seorang professional. Profesionalisme adalah rasa kepemilikan akan sesuatu, yang mana dari rasa ini ia benar-benar merasa bahwa sesuatu itu harus dijaga. Adapun profesionalisme pustakawan hanya dapat dimiliki oleh seorang pustakawan tingkat ahli / profesional. Pada Undang Undang Nomor 43 Tahun 2007 pasal 34 ayat (1), menyebutkan bahwa pustakawan membentuk organisasi profesi. Itu artinya bahwa memang pustakawan sudah diakui sebagai sebuah profesi.
Profesi ini memegang teguh nilai-nilai tentang kualitas, kehormatan, dan
kebersamaan. Pustakawan bekerja berdasarkan etos kemanusiaan sebagai lawan dari kegiatan pertukangan semata. Pustakawan adalah fasilitator kelancaran arus informasi dan pelindung hak asasi manusia dalam akses ke informasi.
Pustakawan memperlancar proses transformasi dari informasi dan pengetahuan menjadi kecerdasan sosial atau social intelligence. Tanpa kepustakawanan, sebuah bangsa kehilangan potensi untuk secara bersama-sama menjadi cerdas, berpengetahuan, dan bermartabat.
Menurut Sulistyo-Basuki (1991:148), ada lima hal yang menjadi ciri sebuah profesi, yaitu:
1. Adanya sebuah asosiasi atau organisasi keahlian
2. Terdapat pola pendidikan profesi yang jelas
3. Adanya kode etik
4. Berorientasi pada jasa
5. Adanya tingkat kemandirian
Untuk dapat dikatakan sebagai profesi, pustakawan sudah memenuhi lima ciri di atas. Sudah banyak organisasi profesi untuk pustakawan, misalnya American Library Association (ALA) di Amerika dan Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) di Indonesia. Pendidikan pustakawan pun jelas, seperti yang tertuang pada SNI 7495 : 2009 tentang perpustakaan umum kabupaten / kota. Pustakawan juga tetap menganut etika profesi umum yakni Respect, Competence, Responsibility, dan Interity. Dan Pemerintah Republik Indonesia telah mengakui profesi pustakawan pada Surat Keputusan Menpan Nomor 132 Tahun 2002.
Melihat beberapa poin di atas sudah jelas bahwa pustakawan memanglah sebuah profesi yang berdiri pada pelayanan jasa informasi. Hal ini juga membuat pustakawan menjadi salah satu pelayan publik yang membantu akses informasi dan proses penyebarluasan informasi. Sampai kapan pun pustakawan akan tetap sebagai penyedia informasi entah itu ada di dalam gedung perpustakaan maupun diluar gedung perpustakaan. Profesi pustakawan juga dituntut untuk melakukan pelayanan yang prima pada masyarakat, hal tersebut menjadi salah satu tugas dari pustakawan sebagai pelayan jasa informasi.

B. Peran Pustakawan pada Masyarakat Informasi
Pustakawan memang memiliki peran pokok melayani masyarakat dalam bidang informasi, namun banyak peran pustakawan yang kurang diketahui oleh masyarakat. Seperti yang kita ketahui definsi dari masyarakat informasi itu sendiri adalah masyarakat yang tidak bisa jauh dari teknologi. Artinya peran putakawan pun dilihat dari era teknologi itu sendiri. Berikut ini ada beberapa pernyataan dari pada ahli tentang peran pustakawan pada era teknologi.
Menurut Hoa Chung Sun menerangkan bahwa peran pustakawan dalam era teknologi adalah peran pustakawan sebagai pendidik dan mengeksplorasi cara-cara yang paling efektif dalam menerapkan perubahan teknologi informasi. Peran yang dilakukan dalam pendidikan dengan melihat adanya revolusi digital seperti munculnya pembelajaran penyempurnaan Web, munculnya pustakawan sebagai pendidik teknologi informasi, adanya perubahan dasar internal perpustakaan akademik dan banyaknya lembaga yang mengadopsi program komputer dengan akses universal baik melalui laptop leasing atau dengan cara lain.
Sedangkan Widodo memberikan penjelasan bahwa peran pustakawan pada era teknologi antara lain :
a. Information Manager
• Librarian as gateway to future and to the past (pustakawan sebagai gerbang manajemen perpustakaan konvensional dan moderen). Ini menunjukkan bahwa, kemajuan perpustakaan masih dijiwai atau diwarnai oleh pengelolaan masa lalu yang sampai saat ini masih dianggap relevan.
• Librarian as knowledge / information manager (pustakawan sebagai manajer ilmu pengetahuan/informasi). Seiring dengan peran perpustakaannya, para pustakawan diposisikan sebagai sumber daya handal dalam mengelola ilmu pengetahuan / informasi.
• Librarian as publisher (pustakawan sebagai penerbit). Ini bisa ditunjukkan dengan berbagai terbitan yang dihasilkan oleh perpustakaan.
• Librarians as organizers of networked resources (pustakawan sebagai pengorganisasi jaringan sumber informasi). Jaringan informasi tidak akan bisa berjalan sesuai yang diharapkan, apabila tidak dikelola dengan baik dan rapih. Karena itu, pustakawan dituntut untuk memahami jaringan informasi sampai belahan dunia manapun, sekaligus mampu mengelola jaringan tersebut agar bisa dimanfaatkan secara maksimal.
• Librarians as advocates for information policy development (pustakawan sebagai penilai kebijakan pengembangan informasi). Pustakawan diharapkan mampu memberikan penilaian informasi mana yang layak dipublikasikan dan dilayankan, dan mana informasi yang perlu di-discard.
• Librarians as sifters of information resources (pustakawan sebagai penyaring sumber informasi). Pustakawan harus mampu memposisikan dirinya sebagai filtering informasi.

b. Team Work
• Librarian as community partners (pustakawan sebagai partner masyarakat. Masyarakat mempunyai peran ganda, sebagai “pengguna” dan “kontributor” informasi. Oleh karenanya, partnership ini perlu dikembangkan untuk menjaga keharmonisan.
• Librarian as a member of the digital library design team (pustakawan sebagai tim desain). User interface dan fitur-fitur akan lebih menarik dan mengena apabila dirancang / didesain bersama-sama antara pustakawan dengan perancang web.
• Librarians as collaborators with technology resource providers (pustakawan sebagai kolaborator penyedia sumberdaya teknologi). Pustakawan adalah pengguna teknologi dan yang mengetahui kebutuhannya akan teknologi informasi, sekaligus memahami kebutuhan pengguna akan teknologi informasi. Oleh sebab itu, pustakawan harus mampu menempatkan dirinya untuk bisa memberikan informasi kepada masyarakat utamanya tentang kebutuhan teknologi informasi.

c. Teacher, Consultant and Researcher
• Librarian as teacher and consultant (pustakawan sebagai guru dan consultant). Implementasi digital library memerlukan sosialisasi dan pendidikan pengguna. Inilah saatnya, pustakawan yang lebih memahami content dari digital library dituntut untuk berberan sebagai guru, paling tidak dalam akses informasi, sekaligus sebagai konsultan untuk bisa memberikan alternatif, misalnya sumber-sumber informasi.
• Librarian as researcher (pustakawan sebagai peneliti). Peran pustakawan tidak lagi hanya sebagai pengelola dan penjaja informasi, namun sebagai peneliti. Hasil penelitian dan pengkajian diharapkan sebagai bahan dalam pengembangan perpustakaan ke depan.

d. Technicians Librarians as technicians (pustakawan sebagai teknisi).
Perpustakaan tidak bisa lepas dari teknologi informasi, untuk itu pustakawan diharapkan mampu memerankan dirinya pada hal-hal teknis di bidang teknologi informasi, misanya adanya “troubleshooting”. Dari uraian diatas disimpulkan bahwa peran pustakawan adalah sebagai mediator, pendidik teknologi informasi, manajer informasi, konsultan dan teknisi komputer.
Dari pernyataan dua ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa peran pustakawan dalam era teknologi atau pada masyarakat informasi adalah berhubungan dengan penyampaian informasi dan pemahaman teknologi. Artinya pustakawan bukan hanya melulu berada dalam lingkup kecil yaitu teks book saja melainkan juga dapat memanfaatkan teknologi untuk kepentingan penyebarluasan informasi. Keahlian yang dimiliki oleh pustakawan juga harus ditambah dengan kemampuan mengoperasikan komputer. Maksud disini mengoperasikan komputer bukan hanya menggunakan saja tetapi juga mengerti program dan aplikasi yang digunakan dalam perpustakaan.

C. Menjaga Eksistensi Pustakawan
Pustakawan sudah memenuhi syarat-syarat sebagai sebuah profesi dan sudah diakui sebagai sebuah profesi. Masalahnya sekarang adalah bagaimana mengembangkan kompetensi pustakawan, sehingga mereka dapat melaksanakan tugasnya secara lebih berdaya guna dan lebih bertanggung jawab dalam melayani pengguna perpustakaan. Untuk menjaga eksistensi profesi pustakawan tentu memerlukan beberapa cara. Mulai dari pembenahan sumber daya, organisasi yang bergerak dinamis sesuai perkembangan jaman dan juga meningkatkan kompetensi dari pustakawan itu sendiri.
Kompetensi adalah kemampuan seseorang yang mencakup pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja yang dapat terobservasi dalam menyelesaikan suatu pekerjaan atau tugas sesuai dengan standar kinerja yang ditetapkan. Peningkatan kompetensi pustakawan secara umum bertujuan untuk:
1. Mengikuti perkembangan zaman. Pustakawan dituntut meningkatkan kinerja dan kompetensinya. Dengan adanya standar kompetensi ini pustakawan dapat meningkatkan kualitasnya dan dapat berperan sesuai dengan tuntutan zaman.
2. Mengikuti kemajuan di bidang iptek. Kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi menuntut pustakawan untuk terus meningkatkan kompetensinya yaitu dengan cara meningkatkan kemampuan, pengetahuan dan keterampilan yang tinggi sehingga pustakawan dapat memberikan layanan kepada masyarakat secara optimal.
3. Memenangkan persaingan dan mengantisipasi perdagangan bebas. Dalam era perdagangan bebas, tenaga asing dapat peluang bekerja di Negara kita.
4. Meningkatkan profesionalisme pustakawan. Sejalan dengan kemajuan, pertumbuhan dan perkembangan perpustakaan di Indonesia yang terus meningkat. Pengguna informasi dari hari ke hari terus meningkat, bervariasi, multi aspek, mereka meminta pemenuhan kebutuhan akan informasi dengan segera. Hal ini menuntut pustakawan bekerja secara professional, mengkaji dan memperhatikan kebutuhan informasi penggunanya.
Dalam banyak hal pustakawan bisa memainkan berbagai peran (peran ganda) yang dapat disingkat EMAS, dengan rincian sebagai berikut:
• Edukator
Sebagai edukator (pendidik) pustakawan dalam melaksanakan tugasnya harus berfungsi dan berjiwa sebagai pendidik. Sebagai pendidik harus bisa menjalankan fungsi pendidikan yaitu mendidik, mengajar dan melatih. Mendidik adalah mengembangkan kepribadian, mengajar adalah mengembangkan kemampuan berpikir dan melatih adalah mengembangkan keterampilan.

• Manajer
Pada hakikatnya pustakawan adalah manajer informasi yang mengelola informasi pada satu sisi, dengan pengguna informasi pada sisi lain. Sebagai manajer pustakawan harus mempunyai jiwa kepemimpinan, kemampuan memimpin dan menggerakkan serta mampu bertindak sebagai koordinator dan integrator dalam melaksanakan tugasnya sehari-hari.

• Administrator
Sebagai administrator, pustakawan harus bisa menyusun, melaksanakan dan mengevaluasi program perpustakaan, serta dapat melakukan analisis atas hasil yang telah dicapai, kemudian melakukan upaya-upaya perbaikan untuk mencapai hasil yang lebih baik.

• Supervisor
Sebagai supervisor, pustakawan harus dapat:
1. Melaksanakan pembinaan professional untuk mengembangkan jiwa kesatuan dan persatuan antar sesama pustakawan, sehingga dapat menumbuhkan semangat kerja dan kebersamaan
2. Meningkatkan prestasi, pengetahuan dan keterampilan baik kepada rekan-rekan sejawat maupun masyarakat yang dilayani
3. Mempunyai wawasan yang luas, pandangan jauh ke depan, memahami beban kerja, hambatan-hambatan serta bersikap sabar tetapi tegas, adil, objektif dalam melaksanakan tugasnya.
4. Mampu berkoordinasi baik dengan sesama pustakawan maupun dengan para pembinanya dalam menyelesaikan berbagai persoalan dan kendala, sehingga mampu meningkatkan kinerja unit organisasinya.
Setelah dijelaskan beberapa kompetensi tersebut maka bisa menjadikan gambaran tentang bagaimana tugas dari pustakawan saat ini. Bukan hanya menata buku di rak dan menyambut pemustaka tapi juga tentang bagaimana pustakawan memahami tentang perkembangan sebuah informasi itu sendiri. Jika dilihat lagi untuk menunjukkan sebuah eksistensi pustakawan orang-orang yang ada di dalam profesi terkait harus menunjukkan kualitas dan kinerja mereka dalam melaksanakan sebuah pekerjaan. Meningkatkan kompetensi disini juga termasuk bagaimana pustakawan mampu menyajikan informasi secara tepat dan akurat kepada masyarakat.

Di era informasi lebih banyak yang menggunakan search engine sebagai penelusuran, tetapi Pustakawan dan Search Engine mempunyai karakteristik tersendiri. Jika membicarakan tentang keberadaan Search Engine akan menggeser keberadaan pustakawan, tergantung pada pustakawan itu sendiri bagaimana dalam menyikapinya.
Keberadaan search engine tidak akan menggeser pustakawan jika perpustakaan mempunyai strategi tertentu misal dengan memberikan fasilitas di perpustakaan seperti dengan adanya fasilitas e-library, e-books, e-journal, e-bibliografi (OPAC). Dengan fasilitas itu seorang pustakawan juga harus mempunyai skill dalam bidang IT agar tidak terkalahkan dengan search engine yang sebagaimana dapat memberikan informasi dengan mudah kepada user.
Attitude atau perilaku seorang pustakawan juga harus ditanamkan dengan keramah tamahan atau berupa senyuman terhadap pelanggan dalam memberikan rujukan untuk memperoleh informasi. Karena search engine tidak dapat memberikan hal tersebut. Sehingga search engine bukan dianggap sebagai lawan lagi melainkan kawan bagi pustakawan.
Keberadaan search engine akan menggeser pustakawan jika pustakawan tidak pintar dalam menguasai IT dengan baik. Karena pustakawan di saat ini diharapkan bisa berinteraksi dengan pengguna tidak hanya secara langsung atau bertatap muka tetapi juga melalui media internet sebagaimana agar tidak kalah dengan search engine dalam memenuhi kebutuhan user.

Tulisan ini dipublikasikan di Perpustakaan, Sumbangsih Pemikiran, Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *