MEDIA PROMOSI DI PERPUSTAKAAN MELALUI MEDIA SOSIAL : manfaat dan kendala

Perkembangan teknologi, informasi dan komunikasi saat ini sangatlah pesat. Berbagai teknologi hadir untuk memudahkan pekerjaan manusia, banyaknya media komunikasi dengan berbagai penawaran fitur-fitur menarik serta informasi yang beraneka ragam. Perkembangan teknologi informasi ini tidak dapat dihindari oleh berbagai instansi yang bergerak di bidang informasi. Perpustakaan sebagai salah satu pusat informasi juga mengalami dampaknya. Pustakawan dihadapkan dengan perkembangan teknologi informasi yang mengharuskannya untuk bisa menyesuaikan diri.

Perkembangan teknologi di bidang perpustakaan, memudahkan pustakawan dan pemustaka dalam pencarian temu kambali informasi. Selain memudahkan temu kembali informasi, informasi yang ada di perpustakaan dapat diakses dari mana saja dan kapan saja dengan adanya teknologi. Oleh karena itu, pertukaran informasi menjadi lebih cepat dan mudah dilakukan. Dengan begitu pemustaka akan merasa puas dengan layanan yang diberikan perpustakaan.

Untuk meningkatkan layanan serta menyebarluaskan informasi yang ada di perpustakaan, maka perlu dilakukan kegiatan promosi. Promosi perpustakaan dimaksudkan untuk mengajak atau memperkenalkan kepada pemustaka tentang kegiatan perpustakaan atau informasi yang ada di perpustakaan. Promosi perpustakaan ini dapat dilakukan dengan berbagai kegiatan seperti pameran, seminar, bazar, atau dengan bantuan teknologi seperti menyediakan website perpustakaan atau menggunakan sosial media. Saat ini, banyak perpustakaan menggunakan sosial media sebagai media promosi perpustakaannya.

Alasan dan Tujuan promosi

Pemasaran merupakan suatu strategi perencanaan yang dimulai dari identifikasi kebutuhan konsumen dan diakhiri dengan penjualan yang berhasil dari suatu produk atau jasa yang ditawarkan, dengan tujuan memuaskan kebutuhan pelanggan. Promosi adalah salah satu mekanisme komunikasi persuasif dalam pemasaran agar barang atau jasa yang ditawarkan dapat terjual. Promosi ini merupakan forum pertukaran informasi antara organisasi dan konsumen dengan tujuan memberi informasi tentang jasa/produk yang tersedia dan mendorong timbulnya kesadaran akan keberadaan produk/jasa bahkan sampai pada tindakan membeli atau memanfaatkannya. Sedangkan publisitas adalah perkakas dari promosi untuk menarik perhatian konsumen.
Menurut Edsall dalam Mustafa (1996 : 21) tujuan promosi perpustakaan adalah:
1.Memberikan kesadaran kepada masyarakat tentang pelayanan perpustakaan.
2. Mendorong minat masyarakat untuk menggunakan perpustakaan 3.Mengembangkan pengertian masyarakat agar mendukung kegiatan perpustakaan.
Promosi perpustakaan menjadi salah satu cara untuk mempekenalkan koleksi dan layanan yang dimiliki suatu perpustakaan agar masyarakat mengetahui koleksi dan layanan tersebut dan dapat memanfaatkannya. Dengan adanya kegiatan promosi perpustakaan dapat membantu mendorong terciptanya minat baca bagi pengguna perpustakaan
sehingga memberikan kemampuan literasi tinggi dan senantiasa haus akan ilmu pengetahuan.

Kendala

Pada dasarnya mendapatkan kendala yang berasal dari dalam dan luar perpustakaan, sehingga perpustakaan sulit untuk mempromosikan layanan serta koleksi-koleksi yang terdapat di perpustakaan.

Berikut ini adalah beberapa kendala tersebut, yaitu:
• Kendala dari dalam perpustakaan
Menurut Mustafa (1996 : 58) kendala yang datang dari dalam perpustakaan adalah sebagai berikut :
1. Lemahnya pengetahuan pustakawan terhadap ilmu dan teknik pemasaran.
2. Pandangan tradisional yang sudah melekat bahwa perpustakaan hanya lah sebuah
gudang buku.
3. Tidak memadainya gedung perpustakaan.
4. Kurangnya dana yang memadai untuk membeli bahan pustaka dan membuka layanan
baru.
5. Lemahnya apresiasi para pustakawan tentang kenyataan pengguna perpustakaan dewasa ini lebih menuntut banyak jasa di perpustakaan (Mustafa, 1996 : 58).

•Kendala dari luar perpustakaan
Selain kendala yang dihadapi dari dalam juga ada kendala yang dihadapi dari luar perpustakaan dalam melakukan kegiatan promosi. Menurut Mustafa (1996 : 58) kendala yang datang dari luar perpustakaan adalah sebagai berikut :

  1. Kecuali untuk jenis perpustakaan umum dan khusus, maka sasaran bagi pelayanan perpustakaan pada umumnya berada di lingkungan perpustakaan dalam tempo sementara.
  2. Masih kurangnya komitmen dari pimpinan dalam dukungan terhadap perpustakaan.
  3. Lemahnya manajemen organisasi.
  4. Faktor sosial, yaitu sudah menjadi budaya pengguna yang jarang ke perpustakaan.
  5. Staf pengajar di perguruan tinggi atau guru sekolah kurang banyak memberi tugas kepada mahasiswa atau siswa yang dapat memaksa mereka untuk menggunakan perpustakaan.

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa kendala yang berasal
dari luar, seperti faktor sosial dan kurangnya dukungan terhadap perpustakaan harus selalu diwaspadai karena sangat mempengaruhi pengguna untuk jarang ke perpustakaan.

DAFTAR PUSTAKA

Mustafa, Badollahi. 1996. Promosi Jasa Perpustakaan. Jakarta: Universitas Terbuka.
Mustafa, Badollahi. 1996. Materi pokok promosi jasa perpustakaan. Jakarta:
Universitas Terbuka.
Mustafa, Badollahi. 1996. Promosi Jasa Perpustakaan. Jakarta: Universitas Terbuka
Depdikbud

Ditulis pada Perpustakaan, Sumbangsi Pemikiran | Tinggalkan komentar

ARTIKEL MEDIA PEMBELAJARAN

ARTIKEL MEDIA PEMBELAJARAN

Nama : Retno ayu sri palupi

Npm : 17540016

MK : Sosiologi informasi dan perpustakaan

Salah satu faktor penunjang keberhasilan proses belajar mengajar dikelas adalah pemanfaatan media pembelajaran. Hal ini menjadi alasan mengapa pemilihan dalam menetapkan media merupakan hal yang sangat penting dan harus dipertimbangkan oleh guru secara seksama. Hal ini sejalan dengan apa yang disampaikan oleh  Vernon S Gerlach, dan Donal P.Ely didalam buku mereka yang berjudul Teaching and Media “a Fundamental Component of the Systematic Approach to Teaching and Learning is the Selection of Instructional Media”. Proses pembelajaran mengandung lima komponen komunikasi, guru (komunikator), bahan pembelajaran, media pembelajaran, siswa (komunikan), dan tujuan pembelajaran. Jadi, Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan (bahan pembelajaran), sehingga dapat merangsang perhatian, minat, pikiran, dan perasaan siswa dalam kegiatan belajar untuk mencapai tujuan belajar.

Oleh karena proses pembelajaran merupakan proses komunikasi dan berlangsung dalam suatu sistem, maka media pembelajaran menempati posisi yang cukup penting sebagai salah satu komponen sistem pembelajaran. Tanpa media, komunikasi tidak akan terjadi dan proses pembelajaran sebagai proses komunikasi juga tidak akan bisa berlangsung secara optimal.

Ditulis pada Sumbangsi Pemikiran, Sumbangsih Pemikiran | Tinggalkan komentar

Profesi Pustakawan Antara Harapan dan Kenyataan

PROFESI PUSTAKAWAN ANTARA HARAPAN DAN KENYATAAN

Tema : Kinerja Pustakawan

Kiranya tidaklah berlebihan kalau dikatakan bahwa di Indonesia masih sedikit orang yang mengenal bahwa bekerja di perpustakaan memerlukan pendidikan formal. Belum banyak orang mengerti bahwa pustakawan adalah suatu profesi yang tidak kalah dengan profesi lain. Pertanyaan klasik tentang profesi pustakawan dan ruang lingkup tugas serta tanggung jawabnya masih selalu saja muncul. Sering muncul pertanyaan-pertanyaan seperti: apakah ilmu perpustakaan itu?; apa beda antara perpustakaan, pusat dokumentasi, pusat informasi, pusat analisis informasi dan Clearinghouse?; apakah tugas pustakawan benar tugas seorang professional?; dan masih banyak pertanyaan lain yang berhubungan atau berkaitan dengan ruang lingkup perpustakaan dan pustakawan (Sudarsono, 1992:149).

Kadangkala karena profesi pustakawan dianggap kurang bergengsi, atau kurang dikenal, mereka yang melakukan pekerjaan yang sama dengan pustakawan menyebut dirinya “ahli dokumentasi”atau “ahli informasi” dan lembaganya disebut sebagai “ pusat dokumentasi dan informasi” ataukah ini suatu kritikan terhadap pustakawan yang masih bersifat pasif, tidak pernah berusaha untuk mengikuti perkembangan zaman (Zen, 1992:21).

Pustakawan masa kini harus aktif, menyesuaikan diri ditempat mana mereka bekerja dan harus mempelajari tingkah polah pencari informasi (user). Dengan kata lain, para pustakawan diharuskan berorientasi pada pemakainya (user-oriented), tidak hanya sibuk dengan dunianya sendiri. Pustakawan semestinya sadar bahwa bekerja di perpustakaan merupakan pekerjaan jasa untuk melayani informasi yang dibutuhkan oleh masyarakat disekitarnya, pustakawan selalu berinteraksi dengan masyarakat (User), dapat disimpulkan bahwa pustakawan merupakan makhluk sosial.

Sebagai makhluk sosial dan sebagai sosok professional, pustakawan diharapkan mampu mempertanggungjawabkan hak-hak dan kewajiban yang melekat pada diri seorang pustakawan. Pertanyaan-pertanyaan klasik dari masyarakat tentang profesionalisme pustakawan dapat dijadikan sebagai evaluasi apakah memang benar pustakawan sudah melaksanakan tugasnya secara professional? Atau malah pustakawan sendiri tidak memahami bahwa pustakawan merupakan pekerjaan professional?

Selain permasalahan keprofesionalan pustakawan, tentu saja masyarakat juga akan mempertanyakan peranannya dalam kehidupan sosial sebagai dampak dari perkerjaan professional masyarakat (user)mengharapkan pustakawan memiliki kontribusi dan berperan aktiv dalam menghimpun, mengelola, dan menyebarluaskan informasi sebagai wujud dari keprofesionalan tersebut. Terlebih pada abad elektronik saat ini, masihkah pustakawan dibutuhkan ketika semua sudah tergantikan oleh perangkat-perangkat canggih yang menawarkan kecepatan dan kemudahan.

Apakah benar tugas pustakawan adalah tugas seorang profesional?

Pustakawan adalah praktisi yang dalam bekerja sehari-hari menghadapi gencarnya serbuan electronic devices, di samping aneka ragam tuntutan para pengguna jasa perpustakaan agar layanan informasi menjadi mudah dan cepat (Sudarsono, 2006: 147).  Berbagai macam definisi tentang pustakawan mulai muncul dengan berbagai sudut pandang dalam mendefinisikan  pustakawan. Hermawan (2006:45) melakukan pendekatan secara etimologi mendefinisikan bahwa kata pustakawan berasal dari kata “pustaka”, dengan demikian penambahan kata “wan” diartikan sebagai orang yang pekerjaanya atau profesinya terkait erat dengan dunia pustaka atau bahan pustaka, dalam perkembangan selanjutnya, istilah pustakawan diperkaya lagi dengan istilah-istilah lain, meskipun hakikat pekerjaanya sama, yaitu sama-sama mengelola informasi, diantaranya pakar informasi, pakar dokumentasi, pialang informasi,manajer pengetahuan, dan sebagainya. Sedangkan Qalyubi, dkk (2007: 4) mendefinisikan pustakawan yaitu orang yang bekerja diperpustakaan atau lembaga sejenisnya dan memiliki pendidikan perpustakaan secara formal (di Indonesia criteria pendidikan minimal D-2 secara formal dalam bidang ilmu perpustakaan, dokumentasi dan informasi.

Sulistyo-Basuki (1991:159) menyebutkan bahwa pustakawan adalah tenaga professional yang dalam kehidupan sehari-hari berkecimpung dengan dunia buku, di segi lain, pustakawanpun dituntut untuk giat membaca demi kepentingan profesi, ilmu, maupun pengembangan kepribadian si pustakawan itu sendiri. Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) sebagai organisasi yang menghimpun para pustakawan dalam kode etiknya juga menyatakan bahwa “pustakawan” adalah seorang yang melaksanakan kegiatan perpustakaan dengan jalan memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai dengan tugas lembaga induknya berdasarkan ilmu pengetahuan, dokumentasi dan informasi yang dimilikinya melalui pendidikan. Kalau menyimak perkembagan profesi, timbul tanda Tanya apakah pustakawan dapat digolongkan kedalam profesi atau tidak.Hal ini tergantung pada kemampuan dan tanggapan pustakawan terhadap profesi dan jasa yang diberikan pustakawan serta andangan masyarakat itu sendiri terhadap pustakawan. Adapun ciri profesi menurut Sulistyo-Basuki (1991: 159) adalah sebagai berikut:

1.     Adanya sebuah Asosiasi atau Organisasi Keahlian

Tenaga professional berkumpul dalam sebuah organisasi yang teratur dan benar-benar mewakili kepentingan profesi. Dalam dunia pustakawan dikenal organisasi bernama Library Association (Inggris), American Library Association (AS), serta Ikatan Pustakawan Indonesia(disingkat IPI).

2.     Terdapat Pola Pendidikan Profesi yang Jelas

Profesi didasarkan atas batang tubuh teori atau teknik yang dapat diajarkan. Hal ini berarti bahwa subjek tersebut dapat diperlukan sebagai sebuah disiplin akademis serta pekerjaan professional harus memiliki sifat intelektual, pada umumnya dalam bidang pendidikan, terdapat perbedaan pendidikan antara subjek yang bersifat akademis dengan subjek yang bersifat professional. Yang disebut terakhir ini merupakan masalah pelik karena perlu dikaitkan antara teori dan praktek, karena masih banyak teori yang belum dikembangkan.

3.     Adanya Kode Etik

Dalam tugas pustakawan, kode etik ini diperlukan karena banyak yang belum dibahas dalam peraturan namun dijumpai dalam tugas sehari-hari. Tujuan kode etik adalah untuk memastikan professional akan membeikan layanan atau hasil kerja dengan kualitas tertinggi dan paling baik untuk kliennya, jadi untuk melindungi para pemakai jasa dari perbuatan atau tindakan yang tidak professional (Purwono, 2013: 57).

4.     Berorientasi Pada Jasa

Kepustakawanan berorientasi pada jasa, dengan pengertian jasa perpustakaan dengan pembaca memerlukan pengetahuan dan teknik khusus yang dimiliki pustakawan. Pustakawan tidak memungut imbalan dari pembaca dan pustakawan dapat dihubungi setiap kali berada diperpustakaan dengan tidak memandang keadaan pembaca.

5.     Adanya Tingkat Kemandirian

Sebagai tenaga professional maka tenaga profesioanl harus mandiri, dalam arti bebas dari campur tangan pihak luar. Pada kenyataanya kemandirian professional sulit diterapkan, sifat kemandirian pustakawan bersifat ganda artinya di satu pihak dia dapat mandiri namun di pihak lain ia terikat pada pemerintah sehingga sering disebut adanya kesetiaan ganda.

Jika mengacu pada ciri-ciri profesi di atas, dapat dipastikan bahwa pustakawan itu merupakan sebuah profesi. Meskipun tidak semua poin dimiliki oleh pustakawan maupun asosiasi kepustakawanan. Misalnya permasalahan kode etik, selama ini apakah sudah ditaati oleh tiap-tiap diri pustakawan? Apakah tiap-tiap pustakawan tahu ada kode etik profesinya? Ataukah sampai saat ini pustakawan masih sebuah profesi administratif (saja)?. Mungkin ini hanya sebuah “uneg-uneg” saya saja sebagai seorang yang belum tahu banyak tentang dunia kepustakawanan. Mungkin juga para senior juga sudah membuat rancangan besar membenahi yang salah, melengkapi yang kurang, dan menambah dengan yang baik untuk  profesi pustakawan yang sangat membanggakan ini.

Dilema dalam Ketidakmapanan

Akhir-akhir ini sedang ramai perbincangan tentang nomenklatur baru yang ditetapkan untuk jurusan bidang perpustakaan. Selama ini banyak yang memahami perpustakaan itu sebagai sebuah ilmu hingga dalam penjurusan kuliah diberikan nama “ilmu perpustakaan”. Selain itu juga dimungkinkan pengaruh dari penterjemahan library and information science yang kemudian diartikan sebagai ilmu perpustakaan dan informasi bukan perpustakaan dan ilmu informasi. Sehingga ketika kata “ilmu” pada “ilmu perpustakaan” dihilangkan seperti menjadi sebuah bencana yang membahayakan kelangsungan hidup perpustakaan. Padahal mungkin saja sudah dari awalnya memang perpustakaan itu bukan ilmu.

Namun, jika perpustakaan itu pada perjalanannya sampai saat ini dirasakan pantas menyandang  sebuah “ilmu” maka yang dibutuhkan adalah sebuah landasan ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Seandainya pondasi yang dibangun untuk mengokohkan bahwa perpustakaan itu pantas dinyatakan sebagai “ilmu” mungkin nomenklatur untuk lulusan pendidikan perpustakaan tidak sesering ini dirubah. Atau mungkin saja ilmu perpustakaan akan percaya diri tanpa selalu di dampingi embel-embel “informasi”. Atau bisa jadi semua penyelenggara pendidikan perpustakaan akan menyeragamkan gelar untuk lulusannya. Semua memang masih menjadi sebuah “kemungkinan” karena kemungkinan-kemungkinan itu masih belum terealisasi sampai saat ini. Rujukan rujukan yang digunakan oleh Penulis dalam tulisan ini yang masih menggunakan tahun tahun lawas agaknya memang masih relevan untuk sekedar merenung bahwa fenomena 25tahun yang lalu hingga saat ini belum mengalami perubahan yang signifikan dalam hal administrasi dan Pendidikan kepustakawanan di Indonesia.

            Perpustakaan memang sebuah oraganisasi yang terus berkembang. Perubahan-perubahan memang akan selalu menyertai keberadaanya menyesuaikan dengan kondisi yang dihadapai. Sebuah ke-optimisan tentu masih ada karena lulusan perpustakaan atau ilmu perpustakaan dari generasi millenial sudah banyak melakukan pembaruan mekipun belum secara keseluruhan.  Geliat dan semangat Perubahan dari kaum muda dengan kreasi dan inovasi menjadi penyemangat mempertahankan eksistensi Perpustakaan. Inovasi dalam bidang teknologi, kegiatan, promosi, dan lain sebagainya sedikit banyak telah mengubah paradigma tentang perpustakaan

Referensi

Hermawan S, Rachman dan Zen , Zulfikar. (2006). Etika Kepustakawanan: Suatu Pendekatan terhadap Kode Etik Pustakawan Indonesia. Jakarta: Sagung Seto.

Purwono. 2013. Profesi Pustakawan Menghadapi Tantangan Perubahan. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Qalyubi, Shihabbudin, dkk. 2OO7.Dasar Dasar Ilmu Perpustakaan Dan Informasi. Yogyakarta: Jurusan Ilmu Perpustakaan Fakultas Adab dan Ilmu Budaya.

Sudarsono. 1992. “Pendekatan untuk Memahami Kepustakawanan”dalam buku Kepustakawan Indonesia: Potensi dan Tantangan.Jakarta: Kesaint Blanc.

Sulistyo-Basuki. 1991. Pengantar IlmuPerpustakaan. Jakarta: Gramedia.

Zen, Zulfikar, dkk.1992. “Kilas Balik 4o Tahun Pendidikan Perpustakaan Di Indonesia 1952 1992” dalam buku Kepustakawan Indonesia: Potensi dan Tantangan. . Jakarta: Kesaint Blanc

Atin Istiarni. 2017 “Profesi Perpustakaan : antara Harapan dan kenyataan” UM Magelang

Ditulis pada Uncategorized | Tinggalkan komentar

Kinerja Pustakawan Bagi Perguruan Tinggi

Perpustakaan merupakan salah satu tempat yang telah banyak dikenal oleh masyarakat umum. Perpustakaan dikenal sebagai tempat yang menyediakan berbagai jenis bahan pustaka didalamnya yang dapat digunakan oleh penggunanya sesuai dengan kebutuhannya. perpustakan maupun taman baca masyarakat adalah suatu organisasi dibidang jasa non profit yang merupakan salah satu dari sekian banyak penyedia jasa informasi. menurut Sulistyo Basuki (199 : 3)

Perkembangan teknologi dan informasi saat ini sangat mempengaruhi kebutuhan informasi di lingkungan masyarakat umum untuk pencarian informasi yang dibutuhkan setiap penggunanya. Dalam hal ini peran pustakawan tidak hanya mengolah koleksi, tetapi juga melakukan layanan perpustakaan yang ditunjukkan kepada pengguna atau user di perpustakaan tersebut.

Profesi pustakawan merupakan sebuah pekerjaan yang memerlukan pengetahuan dan keterampilan untuk mengelolah bahan pustaka, melaksanakan pengadaan, dan memberdayakan bahan informasi.

Menurut Suwarno (2013 : 91) pustakawan adalah sebuah profesi. Pustakwan juga merupakan individu yang hidup dan melakukan kegiata, artinya bahwa ketika sebutan sebagai “pustakawan” disandang oleh seseorang maka seketika profesi itu pun melekat pada dirinya. Dalam melaksanakan profesinya, seorang pustakawan dituntut utuk memiliki etika agar tercipta interaksi yang harmonis dan suasana kerja yang kondusif mengingat etika tersebut erat kaitannya dengan eksistensi manusia sebagai individu yang hidup ditengah-tengah masyarakat. 

Menyangkut tentang etika sebagai profesi pustakawan telah diatur didalam kote etik pustakawan. dalam kode etik pustakawan telah diatur bagaimana sikap dan perilaku profesional sebagai pustakawan dalam memberikan pelayananan kepada pemustaka yaitu menyatakan perbuatan apa yang harus dilakukan dan apa saja yang harus dihindari.

Menurut pendapat Purwono (2013 : 83) bahwa telah dijelaskan tersirat dalam beberapa pasal Undang-Undang No. 43 Tahun 2007 terutama dalam pasal 32 yang menyebutkan bahwa :

“Tenaga perpustakaan berkewajiban : a) memberikan layanan prima terhadap pemustaka; b) menciptakan suasana perpustakaan yang kondusif; c) memberikan keteladanan dan menjaga nama baik lembaga dan kedudukannya sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya”.

Sedangan menurut Hermawan (2006 : 113) dijabarkan tentang kewajiban seorang pustakawan kepada masyarakat yaitu sebagai berikut :

  1. Pustakawan wajib memberikan layanan prima, artinya pelayanan kepada masyarakat harus dilakukan dengan cepat, tepat, mudah, murah, tertib, dan tuntas sesuai dengan prosedur yang berlaku.
  2. Pelayanan harus dilakukan dengan sopan yang berarti dalam memberikan pelayanan pustakawan harus menggunakan prinsip 4S yaitu senyum, salam, sopan, dan santun. Sehingga pelayanan berlangsung dalam suasana ramah dan menyenangkan.

Selain itu menurut Hermawan (2006 : 124) bahwa pustakawan yang dapat memberikan pelayanan dengan perilaku yang baik sesuai etika pergaulan di masyarakat memiliki beberapa manfaat di antaranya : Pustakawan dengan pemustaka dapat saling menghargai, diwujudkan dengan sikap sopan, santun, ramah, dan bersahabat, pustakawan akan selalu mengembangkan pikiran positif, dewasa, dan tidak cuek kepada orang lain. Melayani dengan sabar, tidak mudah tersinggung dapat timbul ketenangan hidup, dan juga melahirkan pikiran jernih dan objektif. Kemudian komunikatif dapat menghilangkan kesombongan, kekecewaan dan kepenatan yang akan menghambat dalam pergaulan sehari-hari. 

Untuk meningkatkan kualitas layanan perpustakaan pustakawan dituntut bersikap profesional dengan memiliki kompetensi yang meliputi pengetahuan, ketrampilan, dan sikap. Kompetensi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1993) adalah bermakna kewenangan (kekuasaan) untuk menentukan (memutuskan) sesuatu. Supriyanto (2006) menyatakan bahwa rumusan kompetensi pustakawan setidaknya meliputi dua, yaitu:

  1. Kompetensi Profesional terkait dengan pengetahuan bidang sumber-sumber informasi: teknologi, manajemen, pelatihan dan kemampuan menggunakan pengetahuan sebagi dasar layanan perpustakaan dan informasi.

2. Kompetensi Individual merupakan satu kesatuan ketrampilan, perilaku dan nilai   7 yang dimiliki pustakawan agar dapat bekerja efektif, jadi komunikator yang baik, meningkat pengetahuannya, memperlihatkan nilai lebih, dapat bertahan terhadap perubahan dan perkembangan dalam dunia kerjanya.

Seorang pustakawan harus memiliki kemampuan, pengetahuan dan ketrampilan, sikap, nilai, perilaku serta karakteristik pustakawan untuk melaksanakan pekerjaan memberikan layanan kepada pengguna. Dengan adanya kompetensi yang seharusnya dimilki pustakawan, akan menjamin terwujudnya layanan yang bermutu. Oleh karena itu, untuk menjadi pustakawan harus ada persyaratan minimal yang dimiliki dan sesudah menjadi pustakawan harus berupaya meningkatkan kompetensi tersebut. Kompetensi pustakawan harus selalu ditingkatkan secara berkelanjutan. Dalam hal ini perlu diperhatikan adanya komponen peningkatan kompetensi antara lain:

  1. Menguasai pengetahuan, ketrampilan dan kemempuan serta integritas pustakawan.
  2. Mempunyai kewenangan dan tanggungjawab yang diberikan kepada pustakawan.
  3. Mengembangkan dan mengelola jasa informasi yang nyaman, mudah diakses dan murah sesuai dengan arahan strategi organisasi.
  4. Menggunakan teknologi informasi yang sesuai untuk mengadakan, mengorganisasikan dan mendiseminasikan informasi.
  5. Meningkatkan jasa informasi secara berkelanjutan untuk menjawab tantangan dan perkembangan

Peran pustakawan selama ini membantu pengguna untuk mendapatkan informasi dengan bimbingan pemakai agar pencarian informasi dapat efisien, efektif, tepat sasaran, serta tepat waktu. Perkembangan teknologi informasi menuntut peran pustakawan lebih ditingkatkan sehingga dapat berfungsi sebagai mitra bagi para pencari informasi. Pustakawan dapat mengarahkan pencari informasi untuk mendapatkan informasi yang sesuai dan dapat dipertanggungjawabkan.

Berikut ini adalah Peran pustakawan antara lain :

  1. Edukator, Sebagai edukator (pendidik), pustakawan dalam melaksanakan tugasnya harus mengembangkan kepribadian, mengajar adalah mengembangkan kemampuan berfikir, dan melatih adalah membina dan mengembangkan ketrampilan, olehj karena itu pustakawan harus memiliki kecakapan mengajar, melatih dan mengembangkan.
  2. Manajer, pada hakekatnya pustakawan adalah “manajer informasi” yang mengelola informasi pada satu sisi dengan penggunaan informasi pada sisi lain.
  3. Administrator, pustakawan harus mampu menyusun, melaksanakan dan mengevaluasi program perpustakaan serta dapat melakukan analisis atas hasil yang telah dicapai, kemudian melakukan upaya-upaya perbaikan untuk mencapai hasil yang lebih baik.
  4. Supervisor, sebagai supervisor pustakawan harus; (a) Dapat melaksanakan pembinaan profesional, untuk mengembangkan jiwa kesatuan dan persatuan antar sesama pustakawan, sehingga dapat menumbuhkan dan peningkatan semangat kerja, dan kebersamaan; (b) Dapat meningkatkan prestasi, pengetahuan dan ketrampilan, baik rekan-rekan sejawat mapun masyarakat pengguna yang dilayani; (c) Mempunyai wawasan yang luas, pandangan jauh ke depan, memahami beban kerja, hambatanhambatan, serta bersikap sabar, tetapi tegas, adil, obyektif dalam melaksanakan tugasnya; dan (d) Mampu berkoordinasi, baik dengan sesama pustakawan maupun dengan para pembinanya dalam menyelesaikan berbagai persoalan dan kendala, sehingga mampu meningkatkan kinerja unit organisasinya.

Dengan mengembangkan kompetensi profesional dan kompetensi pribadi, diharapkan pustakawan mampu menjadi mitra sejati bagi para sivitas akademika (dosen, mahasiswa, peneliti) dan masyarakat pada umumnya, disamping itu, pustakawan juga harus proaktif menyediakan bahan pustaka yang diperlukan dalam penulisan artikel ilmiah maupuan penelitian, sehingga mampu menunjang peran perguruan tinggi yaitu menjunjung Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Ditulis pada Uncategorized | Tinggalkan komentar

Peran Pustakawan Dalam Meningkatkan Literasi Masyarakat Indonesia

Pustakawan merupakan pejuang literasi bangsa yang dituntut untuk memberikan contoh baik, khususnya yaitu dalam budaya membaca dan menulis. Menulis merupakan kegiatan intelektual pustakawan yang banyak memberikan manfaat.
Hal tersebut dilakukan agar literasi masyarakat Indonesia yang masih dianggap rendah dapat meningkat melalui peran aktif pustakawan di Indonesia. Pustakawan merupakan tenaga profesional perpustakaan yang dituntut untuk senantiasa mengembangkan potensi diri dan profesinya secara berkelanjutan.
Berdasarkan survei John W. Miller (President of Central Connecticut State University In New Britain, Conn), diketahui bahwa perilaku literasi seperti membaca dan menulis masyarakat Indonesia hanya di atas satu tingkat dari Bostwana yang menjadi peringkat ke 61 (Straus, 2016).
Data literasi yang lain juga dapat dilihat pada media masa Republika Online (15 Desember 2014), yang mana bahwa kondisi literasi masyarakat di Indonesia masih sangat rendah. Hal tersebut terlihat dari salah satu hasil survei penelitian yang dilakukan oleh Programme For International Student Assessment (PISA) tahun 2010 dan 2012, dijelaskan bahwa
(1) pada tahun 2010 tingkat pembaca siswa, Indonesia urutan ke 57 dari 65 negara. Dalam kasus ini tidak ada satu pun di Indonesia yang meraih nilai literasi di tingkat kelima, hanya 0,4% siswa yang memiliki kemampuan literasi tingkat ke empat, selebihnya di bawah tingkat tiga atau bahkan di bawah tingkat satu;
(2) pada tahun 2012 tingkat literasi masyarakat Indonesia menempati urutan ke 64 dan 65 negara di dunia, Indonesia di atas 1 tingkat Bostwana dan ini merupakan hal yang terburuk terhadap kondisi literasi masyarakat Indonesia.
Melihat kondisi di atas, pemerintah (dalam hal ini Perpusnas RI) harus melakukan langkah-langkah strategis untuk meningkatkan literasi masyarakat Indonesia. Dwiyanto (2007) mengatakan bahwa Perpusnas RI telah memasukkan program literasi informasi ke masyarakat dalam bagian dalam Rencana Induk Perpustakaan Nasional tahun 2006- 2015. Program literasi tersebut dilaksanakan dalam bentuk kegiatan:
(1) penyelenggaraan lomba-lomba penulisan, baik berupa hibah penelitian bidang kepustakawanan, lomba membaca dan menulis karya populer, penulisan artikel, dan resensi buku;
(2) menyelenggarakan “kampanye” gerakan minat baca ke masyarakat;
(3) pembukaan layanan terbuka bagi masyarakat yang dilengkapi dengan fasilitas teknologi informasi yang memadai;
(4) mengoptimalkan layanan perpustakaan keliling dengan sistem penjadwalan yang jelas dan dilengkapi dengan teknologi informasi yang memadai;
(5) pengembangan website PNRI http://www.pnri.go.id yang menyediakan konten informasi dan database open access dan gratis untuk kepentingan pendidikan dan penelitian;
(6) penyelenggaraan kegiatan pelatihan, seminar, dan kajian-kajian mengenai literasi informasi;
(7) melakukan pembinaan-pembinaan ke daerah dan masyarakat terkait dengan literasi informasi.
Setelah program-program literasi masyarakat di atas diketahui pustakawan, langkah berikutnya adalah menyiapkan kompetensi dan strategi untuk menyukseskan program literasi masyarakat yang telah direncanakan oleh Perpusnas RI.
Kompetensi literasi pustakawan disiapkan dalam rangka mencapai target dan tujuan literasi masyarakat, yaitu melek teknologi dan informasi. Kompetensi literasi pustakawan yang dimaksud adalah literasi global (global literacies).
Zaini (2010) menjelaskan kompetensi global literacies dari perspektif kepimimpinan (leadership) di dunia pemasaran/bisnis. Menurutnya kompetensi literasi global ada empat, yaitu personal literacy, social literacy, bussiness literacy, dan cultural literacy. Penerapan kompetensi literasi global ke pustakawan sebagai berikut.
Personal literacy, kompetensi yang berkaitan dengan intropeksi diri. Pustakawan harus mampu mengevaluasi dirinya sendiri sebelum memberikan pelayanan informasi kepada pengguna, mampu atau tidak?
Social literacy, kompetensi yang berkaitan dengan pemahaman terhadap realitas kehidupan sosial masyarakat yang dilayaninya. Dalam hal ini, pustakawan dituntut lebih aktif bersosialisasi dan berbagi pengetahuan dengan pengguna.
Bussines literacy, kompetensi yang berkaitan dengan personal branding pustakawan dan lembaganya. Literasi ini dapat diterapkan dengan pendekatan bisnis/pemasaran.
Culture literacy, kompetensi literasi yang terkait dengan kemampuan pustakawan untuk memahami karakteristik, perilaku, kebiasaan, dan budaya masyarakat yang dilayani. Pustakawan harus memberikan pelayanan secara prima kepada siapa pun, tanpa adanya sikap diskriminasi kepada pengguna.
Keempat kompetensi literasi global di atas menjadi bekal pustakawan untuk melaksanakan program-program literasi ke masyarakat. Ada beberapa strategi yang perlu dilaksanakan oleh pustakawan agar program-program literasi informasi berhasil dan bermanfaat bagi orang lain/masyarakat, antara lain:
Melakukan evaluasi diri sebagai motivator literasi Evaluasi diri dilakukan dalam rangka mengetahui kemampuan dan pengetahuan pustakawan terhadap isu-isu literasi yang berkembang di masyarakat. Program literasi yang disampaikan pustakawan harus tepat sasaran agar memberikan manfaat bagi masyarakat.
Mengidentifikasi kebutuhan informasi pengguna potensial 20 Pengguna potensial yang dimaksud adalah pengguna atau masyarakat yang sangat membutuhkan jasa pustakawan dan perpustakaan. Untuk mengetahui pengguna potensial, pustakawan harus melakukan survei atau profiling lembaga yang bersangkutan..
Menetapkan materi ajar literasi informasi sesuai kebutuhan pengguna Materi merupakan bahan baku informasi yang akan disampaikan kepada pengguna/masyarakat. Pustakawan harus menyiapkan materi literasi dalam format yang menarik dan aplikatif. Materi literasi ini sangat menentukan keberhasilan program literasi informasi yang disampaikan ke pengguna/masyarakat.
Membangun kerjasama berbasis kemitraan secara berkelanjutan Hal ini perlu dilakukan pustakawan dalam rangka meningkatkan jaringan kerjasama dengan perpustakaan dan stakeholders. Sistem kerjasama dilaksanakan dengan sistem kemitraan (saling menguntungkan) dan berkelanjutan. Apabila hal ini dapat terwujud, maka program-program literasi yang dirancang pustakawan dianggap telah berhasil.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa literasi informasi masyarakat dapat dibangun melalui budaya membaca dan menulis masyarakat yang dilaksanakan secara konsisten dan berkesinambungan.
Pustakawan sebagai pejuang literasi bangsa harus menyiapkan program-program inovatif yang terkait dengan literasi perpustakaan dan masyarakat, serta mampu memberikan contoh-contoh nyata melalui karya tulis bidang kepustakawanan. Pustakawan dapat menjadi motivasi bagi anak-anak bangsa di Indonesia.
Dari beberapa fakta di atas jelas bahwa menulis dan membaca adalah suatu perjuangan untuk meningkatkan literasi di Indonesia yang masih tergolong sangat rendah. Dengan membaca dan menulis akan meningkatkan intelektual bangsa Indonesia.
Melalui tulisan, para penulis akan mendapatkan banyak manfaat khususnya yang terkait dengan pengembangan profesi dan pengakuan status dan eksistensi profesi di masyarakat.
Pustakawan adalah pejuang dalam meningkatkan literasi masyarakat Indonesia sehingga melalui pustakawan tercapainya tujuan dari program literasi yang diselenggarakan pemerintah. Tidak ada lagi alasan mengapa seseorang tidak menulis? Menulis bagi seorang penulis bukanlah suatu pilihan, melainkan suatu keharusan

Ditulis pada Uncategorized | Tinggalkan komentar